Tampilkan postingan dengan label Kisah Ikhwan & Akhwat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Ikhwan & Akhwat. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 28, 2014

GODAAN DUNIA DAN WANITA

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia, berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةُ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengabarkan keadaan dunia dan sifatnya yang meluluhkan hati orang-orang yang memandang dan merasakannya. Kemudian Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan dunia sebagai fitnah (ujian dan cobaan) bagi para hamba. Setelahnya, beliau Shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh kita menempuh sebab-sebab yang akan menjaga dan melindungi kita dari terjerumus ke dalam fitnahnya.
Pengabaran Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bahwa dunia itu manis lagi hijau mencakup seluruh sifat dunia beserta apa yang ada di atasnya. Maka dari itu, dunia itu manis dalam hal rasanya, kelezatan, dan kesenangannya. Dunia itu hijau dalam hal keindahan dan kebagusannya yang tampak. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat/kesenangan-kesenangan dunia berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, demikian juga kuda-kuda yang ditambatkan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang….” (Ali Imran: 14)
“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.” (al-Kahfi: 7)
Kelezatan yang beraneka ragam dan warna ada di dunia. Demikian pula pemandangan yang mempesona. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan semua itu sebagai ujian dan cobaan dari-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala juga menjadikan para hamba turun-temurun menguasainya, generasi demi generasi, agar Dia melihat apa yang mereka lakukan di atasnya.
Siapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai pembantu untuk menunaikan ubudiyah (peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia.
Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Namun, siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling besar dan puncak ilmu serta keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya1, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya panjang.
Segala macam kelezatan dunia adalah fitnah (godaan) dan ujian. Namun, fitnah (ujian) dunia yang paling besar dan paling dahsyat adalah wanita. Fitnah wanita sangatlah besar. Terjatuh ke dalam fitnah wanita sangatlah genting dan amat besar bahayanya karena wanita adalah umpan dan jeratan setan. Betapa banyak orang yang baik, sehat, dan merdeka yang diberi umpan para wanita oleh setan. Orang itu pun menjadi tawanan dan budak syahwatnya. Dia tergadai oleh dosanya (menjadi jaminan bagi dosanya). Sungguh sulit baginya untuk lepas dari fitnah tersebut. Dosanya itu adalah dosa akibat ulahnya sendiri karena tidak berhati-hati dan tidak menjaga diri dari bala tersebut. Jika dia menjaga dirinya dan berhati-hati dari fitnah wanita, tidak mencoba-coba masuk ke tempat-tempat masuknya tuduhan/prasangka, tidak menantang fitnah, disertai meminta pertolongan dengan berpegang teguh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya dia akan selamat dari fitnah ini dan terbebas dari ujian ini.
Karena demikian besarnya fitnah wanita, dalam hadits ini Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam sampai memberikan peringatan dengan secara khusus menyebutkan wanita dari sekian banyak fitnah dunia. Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam memberitakan apa yang terjadi pada umat sebelum kita (yang rusak karena wanita –pent.) karena hal itu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa.
Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di Rahimahullah, hlm. 187—188, hadits ke-78)

Senin, September 08, 2014

Kisah Santri Pendiam

Kisah Santri Pendiam yang Akhirnya Lolos ke Yaman Menuntut Ilmu
ABDURROHMAN Lembut, itulah sapaan yang melekat pada beliau saat mondok di Pesantren As-Sunnah, Makassar. Beliau termasuk pemuda yang giat dan semangat dalam menuntut ilmu.
Ana sendiri yang menjadi saksi beliau saat beliau masih awal-awal dalam belajar. Antusiasnya hadir di majelis ilmu, masya Alloh, tak pernah ketinggalan. Sambil duduk di bangku SMA, ia rajin ikut taklim.
Saat itu, sekitar tahun 2010, di Masjid Darul Falah Minasa Upa, Makassar, al-Ustadz Thoriq sering membuka taklim ba'da shubuh. Abdurrahman yang rumahnya agak jauh dari masjid ini, sebab beliau tinggal di Katangka, senantiasa mengikuti majelis.
Yang menarik perhatian, dan yang menjadi pembeda di antara ikhwa lainnya dengan Abdurrahman saat itu ialah beliau senantiasa mencatat. Ya, menulis.
Selalu saja di bawah sadel motor beliau ini menyisipkan buku khusus taklim dan pena. Subhanalloh!
Inilah yang menyebabkan sosok pendiam ini mendapat perhatian khusus oleh Ustadz Thoriq. Kadang ketika di majelis ilmu, jika Abdurrahman tak hadir, maka ustadz bertanya, "Mana Abdurrahman?"
Beliau senantiasa dicari oleh ustadz karena semangatnya dalam belajar, beliau kerap paling depan jika taklim. Dan juga satu hal yang menarik dari beliau, yakni senantiasa membantu dan menolong ikhwa jika ada kebutuhan.
Ketahuilah, Abdurrahman ini tak segan-segan memberikan pinjaman uang jika ada ikhwa yang sedang membutuhkan dana. Tak segan meminjamkan motornya jika ada ikhwa yang hajatnya mendesak. Tak segan menemani ikhwa pergi ke suatu tempat jika memang mau ditemani. Dan masih banyak lagi keutamaan beliau yang tak sulit disebutkan satu per satu.
Masya Alloh!
Dan ada kisah menarik yang pernah ana alami bersama beliau. Saat itu, tersiar kabar akan diadakan Tabligh Akbar di Jeneponto, Sulsel, terkait fenomena terorisme yang sedang menggurita. Saat itu, pematerinya adalah al-Ustadz Dzulqarnain -hafizhohulloh-. Maka Abdurrohman ini, yang kadang ana panggil adik, menelpon ana,
"Kak, mau ki' besok pergi tabligh akbar di Jeneponto?"
"Insya Alloh, dek!" jawab ana.
"Kalau begitu, besok saya jemput ki' di'!" tambah beliau.
Demikianlah kira-kira dialog si HP saat itu. Maka esok harinya kami berangkat dari Makassar - Jeneponto, kurang lebih 3 jam di atas kendaraan motor.
Masya Alloh. Beliau sangat semangat mengajak seseorang pada jalan kebaikan. Inilah salah satu memori yang ana ingat bersama Abdurrahman.
Setelah selesai SMA, beliau kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM), Jurusan Pendidikan Komputer.
Beberapa tahun kemudian, ana putus kontak dengannya karena ada kesibukan. Lalu, ana sempatkan untuk menghubunginya, ternyata ia -alhamdulillah- mondok di Pesantren as-Sunnah, Makaasar. Dan ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Pilihan yang berani.
Saat itulah, ketika ana datang ke Pondok As-Sunnah, mencoba untuk menanyakan ihwal Abdurrahman. Ana bertanya pada salah seorang ikhwa,
"Assalamu alaykum. Mana Abdurrohman, Akhi?"
"Wa alaykum salam. Abdurrohman mana, Akhi? Di sini banyak yang bernama Abdurrohman!" jelas ikhwa tersebut.
"Yang pendiam!" ana beri klu.
"Oh. Abdurrohman Lembut. Itu ada di dalam masjid, Akhi." jawab sang ikhwa.
Saat itu ana senyum. Karena sudah ada peralihan nama beliau, dari Abdurrohman menjadi Abdurrohman Lembut. Masya Alloh. Ana lalu lekas ke dalam masjid. Allohu akbar. Beliau lagi-lagi mencatat dars.
Terakhir, kabar menggembirakan dari Abdurrohman, ialah beliau sudah di Yaman. Menuntut ilmu kepada para masyaikh.
Kabar terakhir dari al-Ustadz Musaddad -hafizhohulloh, Akh Abdurrouman sekarang belajar kepada Syaikh Ahmad bin Tsabit al-Wushoby -hafizhohulloh-, Ma’had Darul Hadits Dhamar, Yaman.
Allohu akbar!
Semoga apa yang beliau pelajari dari para masyaikh hari ini, bermanfaat nantinya bagi kaum muslimin.
***
Mutiara Kisah:
1. Mengenal sosok Abdurrahman Lembut.
2. Penuntut ilmu harus semangat.
3. Senantiasa mencatat saat taklim.
4. Duduk paling depan saat taklim.
5. Keutamaan membantu kaum muslimin.
6. Mengutamakan ilmu agama.
7. Keutamaan belajar kepada para ulama.
8. Rezki penuntut ilmu datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
9. Cita-cita penuntut ilmu harus tinggi.
10. Guru hendaknya perhatian jika muridnya tak hadir.
Semoga Alloh azza wa jalla memberi taufik kepada kita semua....[]
(Abu Hanin)
13 Dzulqa'dah 1435 H

Kamis, Juli 10, 2014

Nikmat


Ustadz Luqman: Lihatlah Perbandingan Orang yang Mandi dan Tidak Mandi!
"ALLOH subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Alloh benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An Nahl: 18)
Dari ayat ini, menunjukkan ada orang yang tidak bersyukur kepada Alloh subhanahu wa ta'ala.
Bulan romadhon adalah bulan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain, Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,
“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Padahal Rosululloh shollallohu alayhi wasallam adalah orang yang diampuni dosanya yang lalu maupun yang akan datang,
Alloh azza wa jalla berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.”
(Qs. Al Fath: 1-2)
Istigfar adalah sebuah kemenangan, kekuatan.
Lihatlah perbandingan antara orang yang mandi dan tidak mandi. Orang yang tidak mandi, ia merasa tidak enak karena badannya tidak segar.
Sementara orang yang mandi pasti lebih merasa bersih (menang) karena kotoran-kotoran badannya telah hilang. Begitu pulalah orang yang beristighfar, ia merasa menang karena telah bertaubat dari dosa-dosa.
Kalau orang yang paling sholeh saja (yakni Rosululloh) paling bayak beristigfar, maka harusnya kita lebih banyak lagi!
Kalau orang yang paling banyak ibadahnya saja (yakni Rosululloh) banyak beristigfar, harusnya kita lebih banyak!
Makna istigfar dan taubat, jika disebutkan satu per satu, maka maknanya sama. Istigfar adalah taubat, dan taubat adalah istigfar.
Namun, jika sebutkan secara bersama, maka ada perbedaan.
Istighfar bermakna menyesali perbuatan yang lalu.
Dan taubat bermakna menyesali (dosa) yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut lagi.
Seperti dalam ayat, Alloh azza wa jalla berfirman,
"Dan dia (Nabi Hud alayhi wasalam) berkata, 'Hai kaumku, istighfarlah (istaghfir) kepada Robbmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya ia akan menurunkan hujan yang sangat deras kepadamu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu (yang sudah ada)'."
(Q.S. Huud: 52)
Maka sekali lagi, bulan romadhon adalah bulan istighfar, bulan yang penuh keberkahan. Bulan kemenangan bagi hamba.
Dan target di dalam bulan Romadhon ini adalah ketakwaan.
Hanya dalam 1 bulan, bisa keluar menjadi orang yang bertaqwa.
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman,
”Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah:183)"
Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memberi taufik kepada kita semua....[]
(Tausiyah Romadhon al-Ustadz Luqman Jamal, Lc. Ponpes Tanwirussunnah. Disadur secara makna.)

Kisah Tragis Seorang Istri


Kisah Tragis Seorang Istri yang Memaksa Suaminya Mencari Rezki yang Banyak
IMAM Hasan al-Bashri rohimahulloh berkata,
"Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak membeli dari orang semacam itu, lalu akupun membeli dari pedagang lain."
Dua tahun setelah itu, aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya dan bersumpah.
Lalu aku tanya kepadanya, "Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?"
Ia menjawab : "Iya, benar!"
Aku bertanya lagi, "Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!"
Ia pun bercerita, "Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizqi, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizqi yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata,
'Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rizqi, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal kain."
[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul 'Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad Bin Marwan bin Muhammad ad-Dainuri al Qodhi al-Maliki. Penerbit: Jum'iyyah at-Tarbiyyah]
Masya Alloh!
Kisah yang amat sarat dengan pelajaran, pendidikan, dan keteladanan. Dimana masa sekarang, kita jarang melihat keluarga yang saling menguatkan dalam hal nafkah.
Dimana hari ini istri-istri yang tidak rakus dunia?
Dimana hari ini istri-istri yang qonaah terhadap ketetapan rezki yang Alloh tetapkan pada suaminya?
Dimana hari ini istri-istri yang tidak banyak menunutut banyak pada suaminya?
Sungguh, amat tragis kita melihat fenomena sebagian keluarga kaum muslimin di masa sekarang. Mereka menganggap kebahagiaan dalam rumah tangga berawal dari makanan yang enak, perabot yang mewah, profesi suami yang menjanjikan, dan berbagai alasan lainnya. Dan mereka lupa bahwa kebagiaan hakiki adalah qonaah.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.”
(HR. Muslim No. 1054)
Maka di sinilah pentingnya kita kembali pada petunjuk agama, bagaimana Islam menunjukkan makna-makna sebuah kebahagiaan dan keberuntungan.
Semoga tak ada lagi istri yang berkata pada suaminya,
"Sedikit sekali penghasilanmu!"
"Penghasilan apa ini? Hanya Rp 25.000/hari? Kerja keras dong!"
"Suami apa kamu ini, gajinya tidak cukup!"
"Lembur terus dong kalau bekerja! Supaya kamu dapat bonus terus, sehingga kita kaya!"
"Minta tambahan dong sama orangtua kamu, agar kita tidak miskin!"
Nas alulloha salamah wal afiayah.

Semoga Alloh subhanau wa ta'ala menjauhkan kita dari pasangan hidup yang tidak pandai bersyukur....[]