Tampilkan postingan dengan label Hakikat Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 04, 2014

Mendidik

Abu Muhammad Bertanya pada Anak-Anaknya, "Apa yang Kalian Bahas, Nak? Masalah Masa Depan atau Masa Lalu?"
SUATU saat Abu Muhammad, yang merupakan seorang guru di sebuah pondok pesantren mendatangi murid-muridnya yang sedang berkumpul di sebuah saung.
Setelah memberi salam dan murid-muridnya menjawab, Abu Muhammad bertanya,
"Apa yang kalian bahas, Nak? Masalah masa depan atau masa lalu?"
"Masalah masa depan, Ustadz!" jawab para santri.
"Oh... Ustadz kira membahas masa lalu.karena jika masa lalu yang dibahas akan melahirkan rasa galau tapi kalau masa depan yang dibahas, ini baru bagus!"
Akhirnya, sang ustadz bersatu dengan mereka, saling membicarakan masalah masa depan, sang ustadz membesarkan hati mereka agar mengejar impian, dan mendidik mereka agar memahami tauhid saat itu.
Saat itu, para santri sangat antusias mendengarkan paparan ustadznya, diantara mereka ada yang bertanya dan diantara mereka ada yang curhat.Suasana malam itu sangat cair, bersahabat, sehingga momentum saat itu bagaikan sahabat dengan Sahabat.tak ada diskriminasi.
Subhanalloh.
Mari kita belajar dari kisah ini, buat para pendidik, baik guru maupun orang tua agar bersemangat terhadap pembenahan akhlak, ilmu, tauhid, anak-anak kita. Bergabunglah bersama mereka, masuki dunianya agar mereka merasa diperlukan.
Jangan memberi sekat, sehingga masing-masing sibuk dengan dunia sendiri. Ketahuilah, kelak kita akan tua dan anak-anak beranjak dewasa, sehingga mereka layak kita harapkan untuk memperjuangkan agama islam ini. Maka, ambil andillah dalam proses pendewasaan mereka.
Lihatlah pendidikan Abu ‘Ashim kepada anaknya, di saat beliau bercerita,
“Saya pergi bersama anak saya yang berumur kurang dari 3 tahun kepada Ibnu Juraji supaya beliau menceritakan kepada anak saya ini tentang hadits dan al-Qur’an.”
Beliau berkata lagi, “Tidak mengapa anak seumur itu untuk diajari al Qur’an dan al- Hadits.”
(Lihat Manhaj at-Tarbiyah an Nabawiyah lil ath-Thifli hal. 113)
Masya Alloh!
Inilah contoh pendidikan para salafiyyun dalam mendidik anak-anak mereka.
Dan sebuah keutamaan yang amat besar bagi para guru atau orangtua apabila bisa menunjukkan jalan kebenaran pada anak-anaknya, Rosululloh shollallohu alayhi wasalam bersabda,
“Demi Alloh, bahwa petunjuk yang diberikan Alloh kepada seseorang melalui kamu lebih baik bagimu dari pada unta merah (kekayaan yang banyak).”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Dan juga merupakan kabar gembira bagi guru dan para orang tua, sabda Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam berikut ini,
“Jika seseorang mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.”
(HR. Muslim)
Olehnya itu, mari kita belajar dari kisah Abu Muhammad ini, ditengah waktu istirahatnya beliau menyempatkan mendidik generasi Islam.
Semoga Alloh memberi taufik kepada kita semua...

Rabu, Juni 18, 2014

Cara Bersin yang Jitu


Bersin adalah sebuah nikmat dan kebaikan yang Allah berikan kepada seorang hamba, karena ia merupakan salah satu sebab yang menghilangkan penyakit, khususnya sakit kepala. Berapa banyak orang yang tertimpa penyakit kepala menginginkan bersin, namun ia tidak mampu melakukannya. Semuanya terpulang kepada Allah yang mengaturnya.
Sekalipun bersin adalah perkara biasa kita alami dan kita saksikan, tapi masih banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengerti cara bersin yang jitu menurut sunnah. Banyak diantara kita yang jahil tentang sunnah ini dan menyalahgunakan nikmat bersin ini, seperti sebagian orang diantara kita yang bermain-main saat bersin, bukan malah mengikuti petunjuk Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!
Para pembaca yang budiman, adanya petunjuk dan sunnah dalam bersin merupakan bukti kuat tentang kesempurnaan Islam, keteraturan dan keindahannya, subhaanallah. Kini kami mengajak pembaca menuai bunga keindahan di balik taman-taman sunnah, khususnya yang berkaitan dengan masalah bersin dalam beberapa noktah berikut ini:
  • Bersin adalah Perkara yang Dicintai oleh Allah -Ta’ala-
Bersin adalah hal yang dicintai oleh Allah, karena ia adalah kebaikan yang mendatangkan kemashlahatan dunia dan juga akhirat. Di dunia seseorang mendapatkan kesehatan, dan di akhirat mendapatkan pahala bila ia menerapkan sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan bersin. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ وَحَمِدَ اللَّهَ كَانَ حَقًّا عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَثَاءَبَ ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَان
“Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci menguap. Bila seorang diantara kalian bersin dan memuji Allah (yakni, membaca “alhamdulillah”), maka wajib bagi setiap orang yang mendengarnya untuk berkata kepadanya, “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu)”. Adapun menguap (yakni, saat ngantuk), maka sesungguhnya ia berasal dari setan. Bila seorang diantara kalian menguap, maka hendaknya ia menahannya sebisa mungkin, karena bila seorang diantara kalian menguap, maka setan akan tertawa karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (6223)]
Al-Imam Abu Bakr Ibnul Arabiy Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata, “Sungguh kami telah jelaskan bahwa setiap perbuatan buruk yang disandarkan kepada setan oleh syariat, maka karena ia (setan) adalah perantara (sebab)nya; dan setiap perbuatan baik yang disandarkan kepada malaikat, maka karena ia (malaikat) adalah perantara (sebab)nya…Menguap (muncul) karena penuhnya (kenyangnya) perut, dan akan lahir darinya kemalasan, sedang semua itu dengan sebab setan. Sementara bersin (muncul) dari kurang makan, dan akan lahir darinya semangat, sedang semua itu dengan sebab malaikat”. [Lihat Fathul Bari (/)]
Al-Imam Abu Zakariyya An-Nawawiy -rahimahullah- berkata, “Menguap disandarkan kepada setan, karena setan mengajak kepada syahwat. Sebab, menguap muncul dari beratnya badan, lemahnya, dan penuh (kenyang)nya. Yang dimaksudkan (dalam hadits ini) adalah memberikan peringatan tentang bahaya sebab tersebut yang lahir darinya (semua perkara buruk), yaitu sepuasnya makan dan memperbanyak makan”. [Lihat Tuhfah Al-Awadziy (/)]
Intinya, bersin membawa kebaikan, sedang menguap membawa keburukan sehingga setan pun menyenanginya. Adapun setan menertawai orang yang menguap, maka karena orang yang menguap akan menjauh dari kebaikan dan berubahnya pemandangan wajahnya, bahkan terkadang ada sebagian orang yang menguap mengeluarkan suaranya bagaikan anjing yang melolong atau sapi yang mengoak.
  • Kaifiat Mendoakan Orang yang Bersin
Diantara sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bagi orang yang bersin dan pendengarnya adalah saling mendoakan kebaikan dunia dan akhirat. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Bila seorang diantara kalian bersin,maka hendaklah berkata, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)”, dan hendaknya saudara atau temannya berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”. Bila ia (temannya) berkata, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”, maka hendaknya ia (yang bersin) berkata lagi, “Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (Semoga Allah menunjuki kalian dan memperbaiki kondisi kalian)”. [HR. Al-Bukhoriy (6224)]
Inilah doa yang sepatutnya kita hafal dan baca saat menghadapi bersin, bukan mengucapkan kata-kata yang tidak baik atau lucu serta bukan pula berteriak bagaikan orang yang kerasukan.
  • Perkara yang Dilakukan saat Bersin
Segala sesuatu harus didasari dengan ilmu. Bila tidak, maka seseorang yang tidak berilmu kadang berbuat atau berucap bagaikan orang bodoh, anak kecil, bahkan seperti orang gila. Lihatlah sebagian orang -misalnya- saat ia bersin, ia melompat-lompat dan berteriak bagaikan orang gila yang kerasukan. Terkadang ia membiarkan udara dan bau mulutnya beterbangan bersama udara sehinga bisa saja ia menulari saudaranya yang ada di sekitarnya, bila ia berpenyakit. Inilah hikmahnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mengajari kita cara mengatasi bersin dalam hadits ini:
Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ وَخَفَضَ أَوْ غَضَّ بِهَا صَوْتَهُ
“Dulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bila bersin, maka beliau meletakkan tangannya atau bajunya pada mulutnya dan merendahkan suaranya dengannya”. [HR. Abu Dawud (no. 5029) dan At-Tirmidziy (no. 2745)]
Semua itu adalah tuntunan yang amat mulia, tuntunan yang menjaga kemashlahatan dan citra diri seorang muslim. Lantaran itu, sepatutnya seorang muslim mengikuti adab bersin yang terdapat dalam hadits ini.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkomentar tentang hadits ini, “Diantara adab-adab bersin, seseorang merendahkan suaranya saat bersin dan mengangkatnya saat membaca “alhamdulillah”, menutup wajahnya agar tidak muncul dari mulutnya atau hidungnya sesuatu yang menyakiti teman duduknya; ia juga tidak membengkokkan (memalingkan) lehernya ke kanan, dan ke kiri agar ia tidak ter-mudhoroti dengan hal itu”. [Lihat Fathul Bari (10/738), cet. Darus Salam, 1421 H]
Al-Imam Ibnul Arabiy Al-Malikiy -rahimahullah- berkata, “Hikmahnya merendahkan suara saat bersin bahwa dalam mengangkat suara terdapat pengagetan anggota-anggota tubuh; hikmah dalam menutup wajah bahwa andaikan ada sesuatu yang keluar darinya (berupa penyakit, ludah, bau busuk dan lainnya), maka hal itu akan menyakiti teman duduknya. Andaikan ia membengkokkan (memalingkan) lehernya demi menjaga teman duduknya, maka ia pun tidak aman dari  (efek) berpaling tersebut. Sungguh kami telah menyaksikan orang yang terjadi pada dirinya hal itu”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (8/19) oleh Al-Imam Al-Mubarokfuriy, Dar Ihyaa’ At-Turots Al-Arobiy & Mu’assasah At-Tarikh Al-Arobiy, 1422 H]
Alangkah indahnya tuntunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bagi orang yang bersin. Sebuah tuntunan yang mengajarkan suatu keindahan, kesehatan, etika, dan kemaslahatan sosial.
Al-Imam Fadhlullah bin Hasan At-Turibisytiy -rahimahullah- berkata, “Ini sebuah etika di depan para teman duduk. Sebab bersin, manusia benci mendengarkannya, dan dipandang oleh orang-orang berasal dari kotoran-kotoran otak”. [Lihat Faidhul Qodir Syarh Al-Jami’ Ash-Shogier (5/190)]
Jadi, hendaknya seorang muslim memiliki adab dan etika dalam setiap kondisinya, sebab itu merupakan konsekuensi keimanan dan keislamannya.
  • Kapan Men-tasymit (mendoakan) orang Bersin
Men-tasymit (تشميتٌ) orang bersin adalah mendoakan rahmat bagi orang yang bersin saat ia mengucapkan “alhamdulillah”. Ini juga merupakan sebuah keindahan Islam yang mengajarkan kepada pengikutnya agar saling mendoakan, bukan saling mencela dan menyakiti.
Pembaca yang budiman, ketika bersin, maka yang bersin dianjurkan mengucapkan doa dan pujian “alhamdulillah” dan bagi orang yang mendengarkan pujian itu wajib baginya men-tasymit (mengucapkan doa) bagi yang bersin, “Yarhamukallah” (Semoga Allah merahmatimu).
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Bila seorang diantara kalian bersin,maka hendaklah berkata, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)”, dan hendaknya saudara atau temannya berkata kepadanya, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”. Bila ia (temannya) berkata, “Yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu)”, maka hendaknya ia (yang bersin) berkata lagi, “Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (Semoga Allah menunjuki kalian dan memperbaiki kondisi kalian)”. [HR. Al-Bukhoriy (6224)]
Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ رَجُلَيْنِ عَطَسَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتْ الْآخَرَ فَقَالَ الَّذِي لَمْ يُشَمِّتْهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَمَّتَّ هَذَا وَلَمْ تُشَمِّتْنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ حَمِدَ اللَّهَ وَإِنَّكَ لَمْ تَحْمَدْ اللَّهَ
“Ada dua orang pernah bersin di sisi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Kemudian beliau men-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”) kepada salah satu diantaranya, dan tidak men-tasymit yang lainnya”. Orang yang tidak di-tasymit oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berkata, “Wahai Rasulullah, anda men-tasymit ini, dan tidak men-tasymit aku”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguh ia memuji Allah (dengan membaca “alhamdulillah”), sedang engkau tidak memuji Allah (dengan membaca “alhamdulillah”)”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 6221), Muslim (no. 2991) Abu Dawud (no. 5039), At-Tirmidziy (no. 2742) dan Ibnu Majah (no. 1223)]
Al-Imam Abu Isa At-Tirmidziy menarik sebuah kesimpulan dari hadits ini dalam Kitab Al-Adab, bab“Maa Jaa’a fi Iijaab At-Tasymit bi Hamdil Aatis” bahwa wajib men-tasymit (membaca “yarhamukallah”) saat mendengarkan ucapan “alhamdulillah” dari orang bersin. [Lihat Sunan At-Tirmidziy (8/15) yang dicetak bersama Tuhfah Al-Ahwadziy]
  • Berapa Kali Mendoakan Orang Bersin
Terkadang seseorang bersin lebih dari sekali. Nah, apakah ia di-tasymit setiap kali ia bersin? Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- menjawab hal ini,
يُشَمَّتُ الْعَاطِسُ ثَلَاثًا فَمَا زَادَ فَهُوَ مَزْكُوم
“Orang yang bersin di-tasymit sebanyak tiga kali. Apa saja yang lebih dari itu, maka berarti ia (yang bersin) sedang flu”. [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3714). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalamTakhrij Al-Misykah (no. 4743)]
Hadits ini menerangkan bahwa disyariatkan men-tasymit orang bersin sebanyak tiga. Adapun selebihnya, maka tidak perlu men-tasymit, sebab bersin yang ia alami hanyalah timbul karena penyakit.
  • Ketika Orang Kafir Bersin
Alangkah indahnya Islam dengan adanya syariat saling mendoakan antara seorang muslim dengan saudaranya sampai kaum Yahudi pun mengharapkan hal itu terjadi bagi mereka. Perkara itu diceritakan oleh Sahabat yang mulia, Abu Musa Al-Asy’ariy -radhiyallahu anhu-,
كَانَتْ الْيَهُودُ تَعَاطَسُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجَاءَ أَنْ يَقُولَ لَهَا يَرْحَمُكُمْ اللَّهُ فَكَانَ يَقُولُ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Dahulu orang-orang Yahudi berusaha bersin di sisi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, karena mengharapkan agar beliau mengucapkan bagi mereka, “Yarhamukumullah (Semoga Allah merahmati kalian)”. Tapi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- malah berdoa, “Yahdiikumullahu wa Yuslihu baalakum (Semoga Allah menunjuki kalian dan memperbaiki keadaan kalian)”. [HR. Abu Dawud (no. 5038) dan At-Tirmidziy (no. 2895). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan At-Tirmidziy (no. 2895)]
Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, beliau tidak berdoa bagi mereka, “Yarhamukumullah (Semoga Allah merahmati kalian), karena rahmat hanya khusus bagi orang-orang beriman. Bahkan beliau hanya mendoakan mereka dengan sesuatu yang memperbaiki keadaan mereka berupa hidayah dan taufiq menuju iman”. [Lihat Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (11/77)]
Para pembaca budiman, inilah sebagian tuntunan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang berkaitan dengan perkara bersin, semoga kita semua sudah dapat mengetahui cara jitu dalam bersin.

Selasa, Juni 17, 2014

Jaring-jaring Materialisme Kehidupan (Waktu Adalah Uang)

Kita melihat sebagian besar manusia memandang bahwa materi sebagai suatu ukuran mulia atau tidaknya seseorang. Tidak diragukan bahwa dunia ini pasti akan berakhir dan setiap orang akan mempertanggungjawabkan apa yang telah  ia lakukan di dunia. Ketika manusia dikembalikan kepada kehidupan akhirat, maka manusia akan menempati satu diantara dua tempat yaitu surga atau neraka.
Apabila seseorang dimasukkan ke surga, maka itulah keberuntungan yang sangat besar. Apabila ia dimasukkan ke dalam neraka, maka itulah keburukan yang sangat buruk. Karena ia akan merasakan berbagai macam siksaan yang tak pernah ia rasakan di dunia. Walaupun waktu di dunia, ia memiliki harta yang banyak dan jabatan yang tinggi, namun ia tetap durhaka dan bermaksiat kepada Allah, maka harta dan jabatan itu tak akan bermanfaat sedikitpun baginya.
Jabatan dan harta hanyalah bunga-bunga kehidupan dunia yang sering melalaikan manusia, lalu memperbudaknya. Apa yang dituntut oleh dunianya, maka ia siap mengorbankan segalanya, tanpa memperhatikan halal-haram dan keridhoan Allah. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning. Kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada siksa yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al-Hadid : 20).
Banyak manusia yang tertipu dan tergiur dengan indahnya kehidupan duniawi yang membuat mereka lupa untuk mengingat Allah. Sehingga mereka menjadikan orang-orang yang memiliki jabatan dan harta sebagai standar kesuksesan seseorang, serta bangga jika anak mereka memiliki jabatan, walaupun jahil (tidak mengetahui) agama mereka. Akibatnya, mereka merendahkan orang-orang yang mempelajari agama Allah, dengan dalih bahwa orang yang belajar agama tidak memiliki peluang untuk meraih harta dan jabatan setinggi-tingginya. Padahal tidak mesti demikian!!
Ketahuilah, harta dan jabatan bukanlah ukuran mulianya seseorang. Barometer dan ukuran mulia tidaknya seseorang di sisi Allah Robbul alamin adalah ketaqwaan seseorang kepada-Nya. Sedang ketaqwaan tak mungkin akan diraih, kecuali dengan ilmu syar’i. Allah  berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujuraat : 13)
Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, kalian hanyalah utama di sisi Allah dengan ketaqwaan, bukan karena kedudukan”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (7/386)]
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifariy -radhiyallahu anhu-,
عَنْ أَبِي ذَرّ ٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: انْظُرْ فَإِنَّكَ لَيْسَ بِخَيْرٍ مِنْ أَحْمَرَ وَلَا أَسْوَدَ إِلَّا أَنْ تَفْضُلَهُ بِتَقْوَى
“Perhatikanlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dibandingkan orang yang berkulit merah, dan tidak pula berkulit hitam, kecuali engkau mengunggulinya dengan ketaqwaan”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (5/158/no. 20898). Hadits ini di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Marom (no. 308)]
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- juga bersabda,
لَيْسَ لأَحَدٍ عَلَى أَحَدٍ فَضْلٌ إِلاَّ بِدِيْنٍ أَوْ عَمَلٍ صَالِحٍ
“Tak ada suatu keutamaan bagi seseorang atas yang lainnya, kecuali dengan agama atau amal sholih”.[HR. Ibnu Wahb dalam Al-Jami' (hal. 6). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1038)]
Barometer berhasil tidaknya seseorang, beruntung tidaknya seseorang, semuanya bermuara kepadaketaqwaan seseorang kepada Allah, bukan ukurannya kembali kepada banyaknya harta, dan tingginya jabatan. Justru harta dan jabatan itulah sering menjadi beban bagi seseorang di hari kiamat kelak.  Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,
“Kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”(QS. At-Takatsur : 8)
Oleh karena itu, Allah tidak memandang kepada harta dan jabatanmu. Allah hanya memandang hati kita yang tunduk dan takut kepada Allah, lalu melahirkan amalan-amalan sholih.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk wajah dan harta kalian ,tapi Allah memandang hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab (no. 6489)]
Ketika manuasia berlomba-lomba mencari dunia, demi mendapatkan harta dan jabatan walaupun dengan cara yang haram. Selain itu, banyaknya wanita karier yang keluar dari peraduannya yang mulia menuju ke kantor-kantor dan mall-mall demi memperoleh dunianya, walaupun mereka harus ber-ikhtilath (campur baur) dengan kaum Adam, bahkan terkadang siap mengikis rasa malunya dengan berpakaian mini lagi ketat. Padahal Allah memerintahkan para wanita untuk tetap tinggal di rumah-rumah mereka demi memelihara harga diri dan kesuciannya sebagaimana dalam firman-Nya,
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu…”. (QS. Al-Ahdzab : 33)
Celakanya lagi, banyak diantara para penghamba dunia, rela mengorbankan agamanya demi meraih secuil dari perhiasan kehidupan dunia yang fana ini. Lihat saja ketika waktu-waktu sholat fardhu, tetap saja sibuk dengan harta dan jabatan yang akan menghinakannya di depan Allah
Pembaca yang jenius, Allah memang telah menjadikan dunia ini berupa perhiasan yang disegerakan (seperti, harta, kedudukan, kekuasaan, dan lainnya) untuk menguji dan membedakan orang yang bersyukur dan orang yang sombong. Inilah yang disinyalir Rasulullah  -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat mempunyai fitnah (ujian), sedang fitnah (ujian)nya umatku adalah harta” [HR. At-Tirmidziy dalam Kitab Az-Zuhd (no 2336)]
Al-Allamah Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata menjelaskan makna hadits ini, “Maksudnya, lalai karena harta, sebab harta menyibukkan pikiran dari melakukan ketaatan, dan membuat kita lupa tentang akhirat”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/121)]
Di sisi lain, Allah berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim :6).
Burhanuddin Al-Biqo’iy -rahimahullah- berkata dalam Nazhm Ad-Duror (9/78), “Tatkala seorang manusia adalah pemimpin bagi rumah tangganya, penanggung jawab bagi bawahannya, maka Allah berfirman, “…dan keluargamu…” berupa istri-istri, dan anak-anak, serta semua yang masuk dalam kategori keluarga. Lindungilah mereka dari neraka dengan memberikan nasihat, dan pendidikan agar mereka berhias dengan akhlaq keluarga Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-”.
Allah memerintahkan kita untuk menyelamatkan diri dan keluarga kita dari api neraka, bukan semata untuk mengejar dunia agar mendapatkan harta dan jabatan yang tinggi. Karena harta dan jabatan tidak akan dibawa mati, namun dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah -Azza Wa Jalla-, dan jalan untuk memperbanyak amal sholih.
Pembaca yang budiman, bagaimana mungkin seseorang menjadi orang yang shalih, yang dapat menyelamatkan diri dan keluarganya dari api neraka, sementara dia tidak menunaikan shalat dan tidak mengetahui atau mengilmui mana yang halal dan mana yang haram??!
Di sisi lain, mereka penuhi hidupnya dengan kesenangan  dan angan-angan kosong, maka Allah membiarkan mereka terus berpaling. Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al-Hijr : 3)
Banyak orang yang ingin menggapai bulan dan ingin memeluk gunung, namun apa daya tangan tak sampai. Kemuliaan bukan dilihat  dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Namun kemulian diperoleh dengan ketaqwaan. Sedang ketaqwaan tak mungkin akan diperoleh, kecuali dengan ilmu agama. Hanya diperoleh dengan baik jika dilandasi dengan ilmu.
Oleh karenanya, wajib bagi setiap muslim mempelajari agama Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah (hadits). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memuji orang-orang yang mempelajari agama Allah dan mengamalkannya, walaupun mereka tidak memiliki harta dan jabatan dalam sabdanya,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan orang yang mengajarkannya.” [HR. Al-Bukhari dalam Fadho'il Al-Qur'an (no. 5027)]
Mengapa demikian? Sebab seseorang dengan ilmu agamanya akan dapat membedakan antara yang haram dan halal; antara yang wajib, sunnah, mubah, dan haram; antara yang baik dan buruk. Jika baik, maka ia kerjakan berdasarkan ilmunya. Bila buruk, maka ia tinggalkan berdasarkan ilmunya.
Jika seseorang memiliki ilmu agama, maka kehidupannya akan teratur sesuai ridho Allah. Adapun jika seseorang tak memiliki ilmu atau menjauh dari ilmu agama, bahkan terkadang benci kepada kaum agamawan, maka kehidupannya akan diwarnai dengan kekacauan, tabrak sana tabrak sini. Dia ibaratnya hewan yang tak dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, yang penting puas dan kenyang!! Kehidupan manusia seperti ini yang tak lagi mengenal halal-haram, hakikatnya lebih buruk dibandingkan hewan, sebab manusia diberi akal, namun tak difungsikan sebagaimana mestinya.
Inilah rahasianya Allah membangga-banggakan orang yang meluangkan waktu untuk mempelajari dan mengkaji Al-Qur’an yang berisi ilmu agama kepada para ulama dan orang-orang berilmu. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
وَمَا اْجتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتِ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَ يَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ اْلسَكِيْنَةُ وَ غَشِيَتْهُمْ اْلرَّحْمَةُ وَ حَفَّتْهُمُ اْلمَلاَئِكَةُ وَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْ مَنْ عِنْدَهُ ،
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu masjid untuk membaca Al Qur’an, dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali sakinah (ketenangan) akan turun atas mereka, diliputi rahmat, dan dinaungi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk-makhluk lain di sisi-Nya”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2699)]
Oleh karenanya, seorang muslim amat tidak layak ketika ia merendahkan saudaranya yang meluangkan waktunya untuk menuntut ilmu, bahkan membenci, dan memusuhinya. Orang yang dimuliakan oleh Allah, harus kita muliakan, tak boleh kita hinakan!! Bahkan kita harus membantunya dengan tenaga, harta, dan pikiran. Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujadilah : 11)
Keutamaan-keutamaan yang disebutkan pada ayat dan dua hadits di atas, tidak didapatkan oleh para hamba dunia  yang haus harta dan jabatan. Orang yang meraih keutamaan ini, hanyalah mereka yang mempelajari agama Allah. Walaupun terkadang kehidupan mereka penuh kesederhanaan dan kemiskinan, tidak punya jabatan dan rendahnya mereka di mata masyarakat yang cinta dunia, tapi mereka telah meraih kemuliaan ilmu, dan kelak –insya Allah- mendapatkan janji surga.
Harta dan jabatan dunia bukanlah tujuan. Dia hanyalah jalan dan sarana dalam mencapai tujuan, yakni ridho Allah. Oleh karenanya, semua itu digunakan sesuai dengan  jalur yang Allah ridhoi dan cintai. Harta dan jabatan digunakan untuk sesuatu yang baik. Sedang seorang tak mungkin akan menggunakannya dalam sesuatu yang baik, kecuali dengan bimbingan ilmu agama. Nah, disinilah pentingnya mempelajari ilmu agama sebelum jauh mencari dunia agar kita tidak salah dalam melangkah. Sebab ilmu itu bagaikan pelita yang menerangi gelapnya jalan.

Minggu, Juni 08, 2014

Hakikat Kebahagiaan

Kebahagiaan Sesungguhnya Bersama Para Sahabat
(Transkrip Teleconference Syaikh Utsman as-Salimy -hafidzahulloh- dari Yaman)
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman,
"Berpegang teguhlah dengan tali agama Alloh semuanya dan janganlah bercerai berai dan ingatlah akan kenikmatan Alloh karuniakan kepada kalian tatkala dahulu kalian saling bermusuhan, kemudian Alloh menyatukan kalian."
Maka ini wasiat dari al-Quran. Konsistenlah dalam tali agama Alloh, kitabulloh, yang telah mengajak kita kepada kebahagiaan. Dan telah memberikan contoh teladan dari orang-orang sebelum kita.
Maka jagalah kitabulloh, dimana orang-orang Arab dahulu dalam kesesatan, kegelapan kemudian Alloh bimbing mereka dengan al-Quranul Karim. Alloh perangi mereka dengan Kitabullohi yang menjadikan mereka dalam bimbingan dan petunjuk Alloh subhanahu wa ta'ala.
Maka tatkala al-Quran itu turun di tengah-tengah mereka dan kemudian mereka mengimani al-Quran, dan merealisasikan tuntutan dari al-Quran dari perintah dan menjauhi larangannya-Nya. Maka mereka menjadi orang-orang yang terbaik. Mereka mendapat predikat ummat yang terbaik.
Alloh berfirman,
"Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk umat manusia, memerintahkan kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran dan kamu beriman kepada Allah." 
(Ali Imran: 110).
Maka barangsiapa yang menjadikan al-Quran sebagai petunjuknya, pembimbingnya, niscaya Alloh akan mengangkatnya, memuliakannya.
Alloh berfirman,
"Sesungguhnya ini adalah al-Quran memberikan bimbingan pada jalan yang lurus dan memberikan berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwasanya mereka pahala besar di sisi Alloh."
(QS. al-Isro)
Maka al-Quran Karim mengajak kepada kita akan jalan yang lurus, menyeru kita untuk masuk ke jalan surga-Nya, mengajak kita untuk mentauhidkan Alloh.
Sesungguhnya Dia-lah Alloh sesembahan kalian. Dan al-Quran telah memberikan bimbingan kepada kita untuk ittiba', ikut kepada Rosululloh shollallohu alayhi wasallam, dalam perintah atau pun larangan.
Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman,
"Dan apa-apa yang datang kepada kalian (dari Rosul), maka ambillah. Dan apa-apa yang dilarang (dari Rosulloh), maka hendaknya berhentilah (tinggalkanlah)."
(QS. Al-Hasyr)
Al-Quran mengajak kita untuk saling mencintai, mengeratkan ukhuwah, mengajak kepada persatuan.
Alloh berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara."
(QS. Al-Hujurot)
Al-Quran pula mengajak kita untuk tidak menyakiti saudara kita, mengganggu kepada saudara kita, demikian pula al-Quran menyeru kepada kita untuk tidak membunuh saudara.
Al-Quran mengajak kita kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang mengambil al-Quran sebagai petunjuknya, niscaya Alloh mengangkat derajatnya di dunia dan di akhirat.
Memahami al-Quran bukan dengan pemahaman kita, tidak pula dengan pemahaman fulan, namun memahami al-Quran ini adalah kembali kepada pemahaman para sahabat rodiyallohu anhu. Karena Alloh telah memuliakan mereka, mengangkat mereka, merekomendasi mereka. Dan Alloh jadikan mereka paham kepada al-Quran. Alloh menyuruh kita untuk menyamakan pemahaman kita, keimanan kita, seperti para sahabat.
Alloh berfirman,
"Maka jika mereka beriman seperti apa yang kalian mengimaninya, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk."
Artinya di sini, kalau kita mengimani seperti para sahabat, sungguh mereka akan mendapat petunjuk.
Maka petunjuk ini, sangat tergantung dengan pemahaman generasi yang pertama (sahabat).
Alloh berfirman,
"Orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Alloh ridho terhadap mereka dan mereka ridho kepada Alloh."
(QS. at-Taubah: 100)
Maka kebahagiaan sesungguhnya adalah mengikuti pendahulu kita yang sholeh, para sahabat.
Kita akan senantiasa di atas kebaikan selagi kita mengikuti para sahabat rodiyallohu anhu.
Hidup di zaman fitnah, maka kembalilah kepada kitabulloh, kepada sunnah dengan pemahaman para sahabat.
Dari Irbah bin Syariah, Rosululloh bersabda,
"Maka barangsiapa yang hidup sepeninggalku nanti, akan mendapatkan perselisihan yang banyak, maka ikutlah sunnahku dan sunnah para khulafauurosyidin. Mereka mendapatkan petunjuk sesudahku. Berpegangteguhlah dengannya dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian, maka hati-hatilah kalian dari mengada-ada dari perkara agama ini. Maka sesungguhnya setiap yang mengada-ada ini adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah adalah sesat."
Maka waspadalah dari bid'ah, dan perkara-perkara yang menyelisihi syariat.
Dan hendaknya senantiasa merujuk kepada para ulama. Memperbaiki akhlak kita kepada para ulama. Dan juga hendaknya bermuamalah dengan manusia secara hikmah.
Rujuklah dari al-Quran dan sunnah.
Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah, dan janganlah mengikuti jalan-jalan yang lain, niscaya akan memalingkanmu dari jalan yang lurus itu."
Maka kita bersykur kepada Alloh dengan kenikmatannya. Dengan kenikmatan beragama Islam, rasa aman, iman, ilmu, dan belajar. Kenikmatan Alloh sangat besar, yang harus senantiasa kita syukuri.
Jazakumullohu khoiron, terima kasih kepada semua yang ta'awun (bekerja sama) dalam kebaikan dan ketakwaan dengan acara ini.
Semoga Alloh memberikan balasan yang sesuai. Dan semoga Alloh memberikan manfaat dari dauroh.
--Penerjemah Ust. Na'im, Lc. di Masjid Muhajirin wal Anshor,


Minggu, Juni 01, 2014

Hakikat Teman Yang Sempurna

TEMAN YANG SEMPURNA*
Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah berkata,
من طلب أخا بلا عيب، صار بلا أخ
"Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman."
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah senantiasa menjagamu-,
Sesungguhnya "persaudaraan" bukanlah semata-mata sebuah slogan, akan tetapi "persaudaraan" adalah suatu akhlak yang bersumber dari dalam jiwa.
Kita semua butuh untuk saling menasehati.
Memegang teguh adab di antara kita merupakan perkara yang penting demi kelanggengan dan kelangsungan sebuah persaudaraan.
Jangan engkau menyangka akan mendapatkan seorang teman yang tidak pernah terjatuh dalam kesalahan.
Jika aku terjatuh dalam kesalahan terhadapmu, maka dimanakah sifat pemaafmu?
Allah ta'ala berfirman,
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali Imron: 134]
Apakah engkau telah mencarikan udzur/alasan buatku ketika sampai kabar kepadamu bahwa aku telah terjatuh dalam kesalahan terhadapmu?
Aku menduga engkau akan mendatangiku dan menasehatiku (terhada­p kesalahanku) serta mendoakanku agar tetap istiqomah.
'Amir bin 'AbdilQois berkata,
الكلمة إذا خرجت من القلب، وقعت في القلب، وإذا خرجت من اللسان لم تجاوز الآذان
"Suatu ucapan (nasehat) ketika keluar/bersumber dari hati, maka pengaruhnya sampai ke hati. Apabila ucapan tersebut hanya keluar dari mulut maka (pengaruhnya) tidak akan melebihi telinga." [Lihat Kitab Washooyaa Al-Aabaa lil Abnaa]
Akan tetapi aku terkejut, ketika aku mengetahui bahwa engkau telah berbicara terhadap harga diriku dan telah menggibahiku.
Sungguh mengherankan perbuatanmu!
INIKAH "NILAI PERSAUDARAAN" YANG ENGKAU PAHAMI?
Abu Qilabah rahimahullah berkata,
إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له عذرا، فإن لم تجد له عذرا، فقل: لعله له عذر لا أعلمه
"Jika sampai kepadamu suatu berita yang engkau benci dari saudaramu, maka carikanlah udzur/alasan, jika engkau tidak mendapatkan udzur/alasan untuknya, maka katakanlah: Mungkin saja dia memiliki alasan yang aku tidak ketahui." [Lihat kitab Raudhatul 'Uqolaa]
Sesungguhnya hubungan sesama manusia membutuhkan kesabaran yang besar.
Jiwa manusia secara fitrah terdapat padanya kekurangan, kebodohan­ dan kedzoliman.
"MAKA JADILAH ENGKAU: PRIBADI YANG MEMILIKI AKHLAK YANG TERPUJI".
Sesungguhnya bersabar terhadap teman-teman, merupaka­n tabi'at/sifat orang-orang yang mulia.
Orang yang bersabar terhadap teman-teman adalah orang yang mampu memikul, memahami dan mema'afkan kesalahannya, melupak­an kejelekannya serta mencarikan udzur/alasan untuk mereka.
Jangan engkau menunggu dan berharap (sampai) aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu, sungguh aku telah lupa perkara tersebut.
Janganlah engkau mencari seseorang/teman yang sempurna (tidak pernah terjatuh dalam kesalahan), sesungguhnya KESEMPURNAAN hanya milik Allah semata.
Berkata sebagian orang bijak:
"Barangsiapa yang mencari teman yang tidak memiliki aib/kekurangan maka hendaklah ia hidup seorang diri.
Barangsiapa yang mencari seorang alim ulama yang tidak pernah tergelincir dalam kesalahan maka hendaklah ia hidup dalam kebodohan.
Barangsiapa yang mencari seorang teman tanpa mau mengerti dan memahami kesalahannya hendaklah ia berteman dengan penghuni kuburan."
BETAPA INDAHNYA JIKA HUBUNGAN DIANTARA KITA SEMATA-MATA TULUS KARENA ALLAH TA'ALA!

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang saling mencintai di atas kemuliaan-Mu dan naungilah kami di atas naungan-Mu, di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Mu (naungan arsy Allah Rabbul'izzah)
Penulis: Ustadz Abu 'Abdillah Al-Bugisy hafizhahullah, Yaman.
Sumber: Group WA An-Nashihah.
*Dengan sedikit editan dari Ust. Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah, semoga bermanfaat insya Allah ta'ala.