Sabtu, April 04, 2015

Jagalah Rumah Anda !

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ
Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah subhanahu wata’ala yang ada pada kita teramat banyak, tak terhitung jumlahnya. Yang demikian ini menuntut dari kita untuk membalasnya dengan rasa syukur dan memanfaatkan semua itu untuk kebaikan dan ketakwaan. Tidak bosan-bosannya kita mengingatkan akan hal ini, dengan harapan nikmat-nikmat tersebut tetap dan terus berada pada kita bahkan ditambah dengan nikmat lain yang belum kita dapatkan.
Ketahuilah wahai para pembaca rahimakumullah, di antara nikmat terbesar yang manusia rasakan adalah diberikannya kepada mereka tempat tinggal (rumah, hunian, kediaman) baik ketika berada di daerahnya sendiri (mukim) atau ketika sedang safar agar mereka bisa tinggal di dalamnya, beristirahat, melindungi diri dan harta serta ragam manfaat yang lainnya.
Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang hal ini dalam al-Qur’an:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الأنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ
“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (QS. an-NahI: 80)
Suatu hal yang wajar jika sekiranya nikmat tempat tinggal ini terhitung nikmat terbesar dari nikmat-nikmat yang ada. Ya, memang demikian keadaannya. Rumah atau tempat tinggal merupakan nikmat besar dari Allah yang patut untuk disyukuri oleh setiap insan, baik yang telah memilikinya sendiri ataupun yang masih mengontrak yang selalu menghitung hari menanti berakhirnya masa pinjaman. Karena jika kita mau menengok sejenak, banyak di antara manusia yang tidak diberikan nikmat yang satu ini. Mereka yang tidak memiliki tempat tinggal, senantiasa nomaden, hidup dan beristirahat di tempat yang kurang layak bahkan tidak selayaknya dijadikan tempat untuk merebahkan dan meluruskan punggungnya.
  • Harus Beda!
Sebagai seorang muslim tentunya harus terpatri dalam diri untuk senantiasa berbuat amal kebajikan di segala lini kehidupan. Salah satu hal yang perlu untuk diperhatikan adalah rumah. Sudah sepatutnya bagi dirinya untuk menghiasi rumahnya dengan kegiatan-kegiatan positif terkait permasalahan rumah yang memang dituntunkan dalam agama ini sehingga rumah tersebut menjadi madrasah kebaikan bagi anggota keluarga serta terbedakan dengan rumah-rumah orang-orang kafir Iainnya.
Para pembaca rahimakumullah, di antara bentuk kegiatan positif yang bisa kita amalkan di rumah adalah:
  1. Memperbanyak dzikir di dalamnya.
Dalam sebuah hadits, baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، وَالْبَيْتِ الَّذِي لَايُذْكَرُ اللهُ فِيهِ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَايِّتِ
“Permisalan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dengan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya bagaikan permisalan orang hidup dengan mati.” (HR. Muslim)
Bagaimana bisa dikatakan demikian? Ya, penghuni rumah yang senantiasa berdzikir Allah subhanahu wata’ala akan menghidupkan hatinya dengan berdzikir kepada-Nya dan Allah subhanahu wa ta’ala dadanya maka ia seperti orang yang hidup. Adapun penghuni rumah jenis kedua maka hatinya tidak pernah merasa tenang dan jiwanya tidak pernah merasa lapang sebagaimana layaknya seorang yang mati. Hatinya keras bahkan terkadang mati, wal ‘iyadzubillah. (Lihat Syarh Riyadush Shalihin ibn al-Utsaimin rahimahulloh)
  1. Memperbanyak mengerjakan shalat sunnah di dalamnya.
Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
“Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian (yakni shalat sunnah). Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits yang mulia ini baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghasung kaum muslimin untuk menghidupkan rumah-rumah mereka dengan mengerjakan shalat sunnah di dalamnya sehingga tidak seperti layaknya kuburan yang memang tidak ada akitivas shalat padanya. Tentu yang dimaksudkan dari shalat sunnah di sini adalah selain shalat-shalat sunnah yang disyari’atkan untuk dilaksanakan secara berjamaah seperti shalat istisqa’, shalat tarawih, dan yang semisalnya.
Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tentang keutamaan shalat sunnah di rumah:
فَعَلَيْكُمْ بِالصَّلَاةِ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ خَيْرَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ
“Hendaknya kalian shalat (sunnah) di rumah-rumah kalian karena sesungguhnya sebaik-balk shalat (sunnah) seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya kecuali shalat fardhu (shalat wajib).” (HR. Muslim)
  1. Memperbanyak membaca al-Qur’an di dalamnya terutama surat al-Baqarah.
Nabi kita yang mulia menyatakan:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
“Sesungguhnya Setan Iari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.” (HR Muslim)
  1. Hendaknya membuat tata ruang yang baik dalam rangka menjaga aurat, kehormatan, harga diri dan privasi.
Poin yang keempat ini sering terlupakan oleh kebanyakan kaum muslimin. Rumah-rumah mereka kurang bisa menjadi pelindung bagi aurat anggota keluarga dan privasi mereka bahkan dengan mudahnya orang yang tidak berhak (baik yang bukan mahram atau orang lain secara umum) keluar masuk tanpa izin. Padahal Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat Jika kalian tidak menemui seorang pun didalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih suci bagi kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (an-Nur: 27-28)
Maka seorang mukmin yang memiliki sifat cemburu tidak akan ridha jika ada orang luar/asing yang keluar masuk ke rumahnya dan berbaur dengan anggota keluarganya tanpa ada batasan, tidak memperdulikan privasi dan aurat dirinya dan keluarganya. Sudahkah kita punya sifat cemburu semacam ini?
  1. Hindari dan menyimpan gambar makhluk bernyawa, patung dan memelihara anjing!
Suatu hal yang sangat didamba seorang muslim ketika malaikat rahmat berkenan untuk singgah di kediamannya. Sebaliknya pula, amat sangat disayangkan jika malaikat tersebut enggan untuk singgah dikarenakan ada sesuatu hal di dalam rumah tersebut yang menjadi penghalang singgahnya mereka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa haditsnya telah mengabarkan yang demikian ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan:
لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَة
“Malaikat tidak akan masuk ke suatu rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (makhluk bernyawa).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat yang lain Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan;
لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ، وَلَا تَمَاثِيلُ
“Malaikat tidak akan masuk ke suatu rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan patung-patung.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Realita ini terpampang di hadapan kita. Betapa banyak rumah-rumah kaum muslimin yang dipenuhi dengan gambar (foto dan semisalnya) makhluk bernyawa, patung-patung makhluk hidup dan anjing. Aduhai sekiranya mereka tahu bahwa pemasangan gambar-gambar dan patung-patung makhluk hidup merupakan salah satu kebiasaan kaum jahiliyyah dan para penyembah berhala pada zaman terdahulu yang kita dilarang darinya.
Hal ini dikarenakan pemasangan patung dan gambar makhluk bernyawa tersebut menjadi perantara kepada kesyirikan sebagaimana yang terjadi pada kaum nabi Nuh ‘alaihissalam dan kaum nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Adapun terkait memelihara anjing, baginda Nabi hanya membolehkan anjing yang digunakan untuk berburu dan untuk menjaga tanaman. Hal ini sebagaimana tersebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:
مَنِ اِقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ
“Barangsiapa memelihara anjing maka akan berkurang pahala yang dia miliki sebesar 2 qirath setiap harinya, kecuali anjing untuk berburu dan untuk menjaga tanaman.”
Adapun selain anjing pemburu dan penjaga maka dilarang karena mengandung beberapa mudharat:
  • Menghalangi singgahnya malaikat rahmat ke dalam rumah, sebagaimana tersebutkan dalam hadits di atas. Maka adakah seorang muslim yang tidak butuh dengan malaikat rahmat?
  • Mengurangi pahala sebesar 2 qirath setiap harinya. 1 qirath sebesar gunung uhud.
  • Tasyabuh (meniru) dengan gaya hidup kaum kuffar yang gemar memelihara anjing, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kita untuk menyerupai/meniru mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa meniru suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud)
  • Banyaknya dampak negatif yang timbul dan anjing seperti mengganggu orang lain baik secara fisik, suara anjing itu sendiri ataupun liurnya dan bagian yang lain dari anjing tersebut yang najis dan bermudharat.
Para pembaca rahimakumullah, demikianlah beberapa hal yang hendaknya diterapkan oleh seorang muslim di dalam rumahnya. Maka sungguh berbahagia anggota keluarga yang hidup dalam rumah yang dipenuhi dengan amalan-amalan tersebut. Rumah yang menjadi sumber kebajikan, disinggahi oleh malaikat rahmat dan terjauhkan dan setan.
Semoga Allah subhanahu wata’ala memberi kita taufik untuk bisa mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari bersama di atas. Allahu a’Iam bishshawab, semoga bermanfaat. (Disarikan dan aI-Khuthab al-Minbariyyah as-Syaikh al-Fauzan hafidzahulloh 3/189 dengan adanya penambahan dan pengurangan) Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Ustadz Abduflah Imam hafidzahulloh. [Disalin dari Buletin Al-Ilmu Ma’had As-Salafy Jember edisi no. 14/IV/XIII/1436 H]

**********************
TINGKATAN MANUSIA DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

 Syaikh Al-Utsaimin rahimahulloh berkata: Dalam menghadapi musibah, manusia terdiri dari beberapa derajat:
  • Yang pertama: Orang yang bersyukur
  • Yang kedua: Orang yang ridho
  • Yang ketiga: Orang yang bersabar
  • Yang keempat: Orang yang berkeluh kesah
Adapun orang yang berkeluh-kesah, maka dia telah melakukan sesuatu yang diharamkan dan kecewa dengan ketentuan Robb semesta alam yang di tangan-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Dia memiliki kekuasaan, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.
Adapun orang yang bersabar, maka sungguh dia telah menunaikan kewajiban. Orang yang sabar adalah orang yang memikul musibah tersebut, yaitu dia melihat bahwa musibah itu pahit, berat, sulit, dan dia tidak menyukai terjadinya musibah itu, namun dia tetap memikulnya dan menahan dirinya dari sesuatu yang diharamkan. Dan ini adalah wajib.
Adapun orang yang ridho, maka dia adalah orang yang tidak mempedulikan musibah ini, dan dia melihat bahwa musibah ini dari sisi Allah, lalu dia rela menerima dengan kerelaan yang sempurna, dan tidak ada dalam hatinya rasa sedih atau penyesalan terhadap musibah itu, karena dia rela menerima dengan kerelaan yang sempurna. Dan tingkatannya lebih tinggi dari tingkatan orang yang sabar. Oleh karena inilah, sikap ridho itu disukai (mustahab) dan bukan wajib.
Dan orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur kepada Allah atas musibah ini. Namun bagaimana bisa dia bersyukur kepada Allah atas musibah ini padahal itu adalah penderitaan?
Jawabannya ada dari dua sisi.
Sisi pertama, hendaknya dia memandang kepada orang yang diberi musibah yang lebih besar, maka dia bersyukur kepada Allah karena dia tidak ditimpa musibah yang seperti itu. Dan atas hal ini, ada sebuah hadits:
ﻻ ﺗﻨﻈﺮﻭا ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻫﻮ ﻓﻮﻗﻜﻢ، ﻭاﻧﻈﺮﻭا ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻫﻮ ﺃﺳﻔﻞ ﻣﻨﻜﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﺃﺟﺪﺭ ﺃﻻ ﺗﺰﺩﺭﻭا ﻧﻌﻤﺔ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ
“Janganlah kalian melihat pada orang yang diatas kalian, dan lihatlah pada orang yang dibawah kalian, karena itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian”. (HR. Al-Bukhory dan Muslim)
Sisi kedua, hendaknya dia mengetahui bahwa dengan sebab musibah ini, akan dihapus kejelekan-kejelekan dan ditinggikan derajat jika bersabar, kemudian apa yang ada di akhirat itu lebih baik dari yang ada di dunia, sehingga dia bersyukur kepada Allah.
Dan juga, orang yang paling keras musibahnya tiada lain adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, lalu yang semisal itu, lalu yang semisal itu. Maka dia berharap agar dijadikan sebagai orang shalih dengan sebab musibah itu, sehingga dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat ini. (Syarhul Mumti’)

Sumber:
  • Situs http://buletin-alilmu.net
  • Group WhatsApp Ashhaabus Sunnah.
وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

MEMULIAKAN AL-QUR’AN BUKAN DENGAN MENCIUMNYA

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ:
MEMULIAKAN AL-QUR’AN BUKAN DENGAN MENCIUMNYA
[Petikan nasihat dari Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Imam Al-Albani]
Al-Qur`an yang diturunkan oleh Rabbul ‘Alamin dari atas langit yang ketujuh adalah sebuah kitab yang diagungkan keberadaannya oleh kaum muslimin. Mereka menghormatinya, memuliakan, dan menyucikannya. Namun terkadang pengagungan dan penghormatan tersebut tidaklah sesuai dengan yang semestinya. Artinya, mereka menganggap perbuatan yang mereka lakukan merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan terhadap Kalamullah, padahal syariat tidak menyepakatinya.
Satu kebiasaan yang lazim kita lihat di kalangan kaum muslimin adalah mencium/mengecup mushaf Al-Qur`an. Dengan berbuat seperti itu mereka merasa telah memuliakan Al-Qur`an. Lalu apa penjelasan syariat tentang hal ini? Kita baca keterangan Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Imam Al-Albani rahimahullah berikut ini.


Dalam keyakinan kami, perbuatan mengecup mushaf tersebut hukumnya masuk dalam keumuman hadits:
إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثاَتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Hati-hati kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan merupakan bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”[1]
Dalam hadits yang lain disebutkan dengan lafadz:
وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
“Dan setiap kesesatan itu di dalam neraka.”[2]
Kebanyakan orang memiliki anggapan khusus atas perbuatan semisal ini. Mereka mengatakan bahwa perbuatan mengecup mushaf tersebut tidak lain kecuali untuk menampakkan pemuliaan dan pengagungan kepada Al-Qur`anul Karim. Bila demikian, kita katakan kepada mereka, “Kalian benar. Perbuatan itu tujuannya tidak lain kecuali untuk memuliakan dan mengagungkan Al-Qur`anul Karim! Namun apakah bentuk pemuliaan dan pengagungan seperti itu dilakukan oleh generasi yang awal dari umat ini, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian pula para tabi’in dan atba’ut tabi’in?” Tanpa ragu jawabannya adalah sebagaimana kata ulama salaf, “Seandainya itu adalah kebaikan, niscaya kami lebih dahulu mengerjakannya.”
Di sisi lain, kita tanyakan, “Apakah hukum asal mengecup sesuatu dalam rangka taqarrub kepada Allah ‘Azza wajalla itu dibolehkan atau dilarang?”
Berkaitan dengan masalah ini, kita bawakan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, agar menjadi peringatan bagi orang yang mau ingat dan agar diketahui jauhnya kaum muslimin pada hari ini dari pendahulu mereka yang shalih.
Hadits yang dimaksud adalah dari ’Abis bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengecup Hajar Aswad dan berkata:
إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، فَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ  يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Sungguh aku tahu engkau adalah sebuah batu, tidak dapat memberikan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.”[3]
Apa makna ucapan ‘Umar Al-Faruq radhiyallahu ‘anhu, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.”
Dan kenapa ‘Umar mencium/mengecup Hajar Aswad yang dikatakan dalam hadits yang shahih:
الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ
“Hajar Aswad (batu) dari surga.”[4]
Apakah ‘Umar menciumnya dengan falsafah yang muncul darinya sebagaimana ucapan orang yang berkata, “Ini adalah Kalamullah maka kami menciumnya”? Apakah ‘Umar mengatakan, “Ini adalah batu yang berasal dari surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa maka aku menciumnya. Aku tidak butuh dalil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan pensyariatan menciumnya!”
Ataukah jawabannya karena memurnikan ittiba’ (pengikutan) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang yang menjalankan Sunnah beliau sampai hari kiamat? Inilah yang menjadi sikap ‘Umar hingga ia berkata, “Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu….”
Dengan demikian, hukum asal mencium seperti ini adalah kita menjalankannya di atas sunnah yang telah berlangsung, bukannya kita menghukumi dengan perasaan kita, “Ini baik dan ini bagus.”
Ingat pula sikap Zaid bin Tsabit, bagaimana ia memperhadapkan tawaran Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhum kepadanya untuk mengumpulkan Al-Qur`an guna menjaga Al-Qur`an jangan sampai hilang. Zaid berkata, “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?!”
Sementara kaum muslimin pada hari ini, tidak ada pada mereka pemahaman agama yang benar.
Bila dihadapkan pertanyaan kepada orang yang mencium mushaf tersebut, “Bagaimana engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, niscaya ia akan memberikan jawaban yang aneh sekali. Di antaranya, “Wahai saudaraku, ada apa memangnya dengan perbuatan ini, toh ini dalam rangka mengagungkan Al-Qur`an!” Maka katakanlah kepadanya, “Wahai saudaraku, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengagungkan Al-Qur`an? Tentunya tidak diragukan bahwa beliau sangat mengagungkan Al-Qur`an namun beliau tidak pernah mencium Al-Qur`an.”
Atau mereka akan menanggapi dengan pernyataan, “Apakah engkau mengingkari perbuatan kami mencium Al-Qur`an? Sementara engkau mengendarai mobil, bepergian dengan pesawat terbang, semua itu perkara bid’ah (maksudnya kalau mencium Al-Qur`an dianggap bid’ah maka naik mobil atau pesawat juga bid’ah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah naik mobil dan pesawat, –pent.).”
Ucapan ini jelas salahnya karena bid’ah yang dihukumi sesat secara mutlak hanyalah bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama. Adapun bid’ah (mengada-adakan sesuatu yang baru yang belum pernah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -pent.) dalam perkara dunia, bisa jadi perkaranya dibolehkan, namun terkadang pula diharamkan dan seterusnya. Seseorang yang naik pesawat untuk bepergian ke Baitullah guna menunaikan ibadah haji misalnya, tidak diragukan kebolehannya. Sedangkan orang yang naik pesawat untuk safar ke negeri Barat dan berhaji ke barat, tidak diragukan sebagai perbuatan maksiat. Demikianlah.
Adapun perkara-perkara ta’abbudiyyah (peribadatan) jika ditanyakan, “Kenapa engkau melakukannya?” Lalu yang ditanya menjawab, “Untuk taqarrub kepada Allah!” Maka aku katakan, “Tidak ada jalan untuk taqarrub kepada Allah ‘Azza wajalla kecuali dengan perkara yang disyariatkan-Nya.”
Engkau lihat bila salah seorang dari ahlul ilmi mengambil mushaf untuk dibaca, tak ada di antara mereka yang menciumnya. Mereka hanyalah mengamalkan apa yang ada di dalam mushaf Al-Qur`an. Sementara kebanyakan manusia yang perasaan mereka tidak memiliki kaidah, menyatakan perbuatan itu sebagai pengagungan terhadap Kalamullah namun mereka tidak mengamalkan kandungan Al-Qur`an.
Sebagian salaf berkata, “Tidaklah diadakan suatu bid’ah melainkan akan mati sebuah sunnah.”
Ada bid’ah lain yang semisal bid’ah ini. Engkau lihat manusia, sampai pun orang-orang fasik di kalangan mereka namun di hati-hati mereka masih ada sisa-sisa iman, bila mereka mendengar muadzin mengumandangkan adzan, mereka bangkit berdiri. Jika engkau tanyakan kepada mereka, “Apa maksud kalian berdiri seperti ini?” Mereka akan menjawab, “Dalam rangka mengagungkan Allah ‘Azza wajalla!” Sementara mereka tidak pergi ke masjid. Mereka terus asyik bermain dadu, catur, dan semisalnya. Tapi mereka meyakini bahwa mereka mengagungkan Rabb mereka dengan cara berdiri seperti itu. Dari mana mereka dapatkan kebiasaan berdiri saat adzan tersebut?! Tentu saja mereka dapatkan dari hadits palsu:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْأَذَانَ فَقُوْمُوْا
“Apabila kalian mendengar adzan maka berdirilah.”[5]
Hadits ini sebenarnya ada asalnya, akan tetapi ditahrif oleh sebagian perawi yang dhaif/lemah atau para pendusta. Semestinya lafadznya: قُوْلُوا (…ucapkanlah), mereka ganti dengan: قُوْمُوْا (…berdirilah), meringkas dari hadits yang shahih:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْأَذَانَ، فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah semisal yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah untukku….”[6]
Lihatlah bagaimana setan menghias-hiasi bid’ah kepada manusia dan meyakinkannya bahwa ia seorang mukmin yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah Subhanahu wata’ala. Buktinya bila mengambil Al-Qur`an, ia menciumnya dan bila mendengar adzan ia berdiri karenanya.
Akan tetapi apakah ia mengamalkan Al-Qur`an? Tidak! Misalnya pun ia telah mengerjakan shalat, tapi apakah ia tidak memakan makanan yang diharamkan? Apakah ia tidak makan riba? Apakah ia tidak menyebarkan di kalangan manusia sarana-sarana yang menambah kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu wata’ala? Apakah dan apakah…? Pertanyaan yang tidak ada akhirnya. Karena itulah, kita berhenti dalam apa yang Allah Subhanahu wata’ala syariatkan kepada kita berupa amalan ketaatan dan peribadatan. Tidak kita tambahkan walau satu huruf, karena perkaranya sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ
“Tidaklah aku meninggalkan sesuatu dari apa yang Allah perintahkan kepada kalian kecuali pasti telah aku perintahkan kepada kalian.”[7]
Maka apakah amalan yang engkau lakukan itu dapat mendekatkanmu kepada Allah ‘Azza wajalla? Bila jawabannya, “Iya.” Maka datangkanlah nash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membenarkan perbuatan tersebut.
Bila dijawab, “Tidak ada nashnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Berarti perbuatan itu bid’ah, seluruh bid’ah itu sesat dan seluruh kesesatan itu dalam neraka.
Mungkin ada yang merasa heran, kenapa masalah yang kecil seperti ini dianggap sesat dan pelakunya kelak berada di dalam neraka? Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah memberikan jawabannya dengan pernyataan beliau, “Setiap bid’ah bagaimana pun kecilnya adalah sesat.”
Maka jangan melihat kepada kecilnya bid’ah, tapi lihatlah di tempat mana bid’ah itu dilakukan. Bid’ah dilakukan di tempat syariat Islam yang telah sempurna, sehingga tidak ada celah bagi seorang pun untuk menyisipkan ke dalamnya satu bid’ah pun, kecil ataupun besar. Dari sini tampak jelas sisi kesesatan bid’ah di mana perbuatan ini maknanya memberikan ralat, koreksi, dan susulan (dari apa yang luput/tidak disertakan) kepada Rabb kita ‘Azza wajalla dan juga kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Seolah yang membuat dan melakukan bid’ah merasa lebih pintar daripada Allah ‘Azza wajalla dan Rasul-Nya. Na’udzu billah min dzalik. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Dinukil dan disarikan oleh Ummu Ishaq Al-Atsariyyah dari kitab Kaifa Yajibu ‘Alaina an Nufassir Al-Qur`an Al-Karim, hal. 28-34)

*********************
HUKUM MERENDAHKAN WALIYYUL AMRI
Oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Syariat yang lurus telah melarang dari tindakan merendahkan waliyyul amri [pemerintah –red] karena hal itu akan menyebabkan hilangnya ketaatan yang semestinya diberikan kepada mereka. Melemahkan kewibawaan waliyyul amri dan sibuk mencelanya, mencari-cari kekurangannya, adalah satu kesalahan besar dan pelanggaran yang fatal serta pangkal terjadinya kerusakan agama dan dunia.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Para tokoh dan pembesar dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari merendahkan dan mencela umara.”
Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahumallah juga menegaskan bahwa kewajiban semua orang adalah menahan kesalahan-kesalahannya (waliyyul amri) dan tidak boleh menyibukkan diri dengan mencelanya, tetapi hendaknya berdoa memohon taufik kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk waliyyul amri, sebab mencelanya justru akan menimbulkan kerusakan yang besar dan bahaya yang merata. (ad-Dur al-Mantsur)
Barang siapa merendahkan waliyyul amri atau pemerintah, berarti ia melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلُّوهُ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلَامِ مِن عنُقِهِ
“Sesungguhnya akan ada setelahku penguasa, maka janganlah kalian merendahkannya. Siapa yang hendak merendahkannya, sungguh ia melepas ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Ahmad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)
Segala hal yang mengandung unsur penghinaan dan merendahkan waliyyul amri adalah haram. Yang wajib adalah menghormatinya, karena menghormati waliyyul amri berarti menghormati Islam dan muslimin. Mereka layak dihormati karena kedudukannya.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Perkara ini (menghormati waliyyul amri) wajib mendapatkan perhatian serius, karena di sinilah letak kemaslahatan Islam dan muslimin. Kemaslahatan yang akan kembali kepada kaum muslimin dalam menghormati waliyyul amri jauh lebih banyak dibandingkan kemaslahatan yang kembali kepada waliyyul amri itu sendiri. Maka dari itu, mengetahui perkara ini dan mengamalkannya adalah hal yang dituntut. Sebab, kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan kerja sama dengan waliyyul amr, terkhusus pada masa yang banyak keburukan seperti sekarang ini. Tidak sedikit dai yang justru mengajak kepada kesesatan. Mereka menyebarkan kejelekannya di tengah-tengah kaum muslimin dengan segala cara untuk merusak kewibawaan pemerintah dan melemahkan pemerintahan. Seluruh kaum muslimin hendaknya betul-betul memerhatikan hal ini. Apabila ada pihak yang ingin memecah belah urusan kaum muslimin dan menggunjing waliyyul amri, hendaknya dinasihati dan diberitahu bahwa hal ini tidak boleh, bukan jalan keluar dari problem.” (al-‘Ilam bi kaifiyyati Tanshibil Imam fil Islam)
وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

Footnote:
[1] Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/92/34
[2] Shalatut Tarawih, hal. 75
[3] Shahih At-Targhib wat Tarhib, 1/94/41
[4] Shahihul Jami’, no. 2174
[5] Adh-Dha’ifah, no. 711
[6] Hadits riwayat Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 384
[7] Ash Shahihah, no. 1803

Kamis, Januari 15, 2015

BERBAGAI FITNAH TERJADI TERMASUK TANDA-TANDA TEGAKNYA HARI KIAMAT

Penanya: Kalau diperhatikan pada zaman ini, banyaknya fitnah, kejadian, dan kedengkian. Apakah ini termasuk dari tanda-tanda hari kiamat?
Jawaban: Tidak diragukan bahwa munculnya berbagai fitnah merupakan bagian dari tanda-tanda hari Kiamat. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.
Maka wajib bagi setiap muslim untuk memohon kepada Allah keselamatan dari berbagai fitnah. Jika terjadi fitnah, hendaklah dia tidak turut campur padanya. Bahkan semestinya dia menjauh dari fitnah tersebut serta menyibukkan diri dengan ibadah. Ibadah di masa peperangan (fitnah) bagaikan berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi waalihi wasallam.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits, menyibukkan diri dengan ibadah, tidak masuk dan bergabung ke dalam fitnah, serta menjauhi fitnah itu.
Nabi shallallahu ‘alaihi waalihi wasallam ketika menyebutkan kepada Hudzaifah bahwa akan terjadi berbagai fitnah dan muncul duat (para penyeru) fitnah yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam, Hudzaifah berkata, “Apa yang Anda perintahkan kepada saya jika mendapati hal yang demikian, wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Hendaklah engkau berpegang dengan jama’ah kaum muslimin dan pimpinan mereka.
Ini termasuk perkara terbesar yang akan menjaga (seseorang) dari berbagai fitnah, setiap muslim bergabung dengan jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.
Hudzaifah berkata, “Jika kaum muslimin tidak memiliki jama’ah tidak pula imam?”
Nabi bersabda, “Menyingkirlah dari seluruh kelompok-kelompok (sesat tersebut) walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu sementara engkau dalam keadaan demikian (tidak bergabung dengan kelompok-kelompok sesat tersebut, pen)”
Alih bahasa: Ustadz Abu Bakar Jombang

Minggu, Januari 11, 2015

JALAN MERAIH MANISNYA IMAN

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, ia akan meraih manisnya iman: (1) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, (3) ia membenci untuk kembali kepada kekafiran—setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya darinya—sebagaimana ia benci apabila dilempar ke dalam api.”
Takhrij Hadits
Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu muttafaqun ‘alaihi. Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dalam “Kitabul Iman” bab “Halawatil Iman (Manisnya Iman)” (1/60 no. 16), dan dalam “Kitab al-Ikrah” bab “Man Ikhtara adh-Dharb wal Qatl wal Hawan ‘alal Kufri (Orang yang Lebih Memilih Pukulan, Bunuh, atau Kebinasaan daripada Kekafiran)” (16/315 no. 6941).
Al-Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu di atas dalam “Kitabul Iman”, bab “Khishal man Ittashafa Bihinna Wajada Halawatal Iman (Sifat-Sifat yang Dengannya Seseorang Merasakan Manisnya Iman)” no. 163.
Hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan pula oleh para imam ahlul hadits lain dengan beberapa perbedaan lafadz.
Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra, demikian pula an-Nasai, meriwayatkan dengan lafadz,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ وَطَعْمَهُ: أَنْ يَكُونَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ فِي اللهِ وَأَنْ يَبْغُضَ فِي اللهِ، وَأَنْ تُوقَدَ نَارٌ عَظِيمَةٌ فَيَقَعَ فِيهَا أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُشْرِكَ بِاللهِ شَيْئًا
“Tiga hal yang jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manis dan lezatnya iman: (1) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) ia mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membenci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala; dan (3) seandainya api yang sangat besar dinyalakan lalu ia dilemparkan ke dalamnya, itu lebih ia sukai daripada menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Iman, Pokok Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari oleh setiap manusia. Mereka siap mengorbankan apa pun yang berharga—termasuk jiwa—demi memperoleh kebahagiaan itu.
Banyak manusia mendefinisikan kebahagiaan, namun yang pasti kebahagiaan hakiki bukan pada banyaknya harta, tingginya kedudukan atau status sosial, walaupun kebanyakan manusia menilai kebahagiaan dengan banyaknya dunia yang dikumpulkan.
Dunia memang dijadikan indah dalam pandangan manusia hingga banyak manusia tertipu dengan hijau dan gemerlapnya dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”(Ali Imran: 14)
Dunia memang indah, namun benarkah anggapan kebanyakan manusia bahwa dunia adalah kebahagiaan dan puncak keberuntungan? Mari kita tadabburi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikutnya,
Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 15—16)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah dengan iman dan amalan saleh, dengan bertakwa kepada-Nya. Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 96)
Hakikat Iman
Iman bukan sekadar keyakinan atau pengakuan semata. Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata,
لَيْسَ الْإِيْمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا باِلتَّمَنِّي وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَتْهُ الْأَعْمَالُ
“Sesungguhnya iman bukanlah angan-angan atau pengakuan semata, namun iman adalah keyakinan yang tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan.” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman [1/80])
Ya, iman bukan sekadar angan-angan. Iman adalah keyakinan yang kokoh dalam hati yang dibuktikan dengan ucapan lisan dan amal perbuatan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, serta orang-orang yang menunaikan zakat….” (al-Mu’minun: 1—4)
Saudaraku, rahimakumullah. Iman dimisalkan sebagai sebuah pohon yang sangat indah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (Ibrahim: 24—25)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memisalkan kalimat iman—kalimat yang paling indah—dengan sebuah pohon yang paling indah dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Akar-akarnya kokoh, tumbuh dengan sempurna, terus-menerus mengeluarkan buah-buahnya setiap saat dan waktu. Manfaat-manfaatnya pun terus dirasakan pemiliknya dan orang lain. Pohon ini berbeda-beda keadaannya sesuai dengan perbedaan kalbu orang-orang yang beriman perbedaan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sifat-sifatnya.
Maka dari itu, seorang hamba yang mendapatkan taufik seharusnya terus berupaya mengenali pohon iman itu, mengenali sifat-sifat dan sebab-sebabnya, pokok-pokok dan cabang-cabangnya, kemudian mencurahkan segala kemampuannya untuk mewujudkan pohon iman itu dengan ilmu dan amal. Sesungguhnya, bagian kebaikan dan keberuntungan seseorang di dunia dan akhirat itu sesuai dengan keadaan pohon iman tersebut.” (at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman)
Manisnya Iman
Jika iman terus dipupuk dengan amalan saleh dan dijaga dari segala hal yang merusaknya, yaitu syirik, bid’ah, dan maksiat [1], sebagaimana seseorang memelihara pohon kurma yang sangat ia sayangi, setiap pagi dan sore ia sirami, tidak lupa ia memupuknya dan menjauhkannya dari hama dan penyakit, sungguh orang tersebut akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman yang tidak bisa dilukiskan. Ia akan mendapatkan manisnya iman sebagaimana hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ
“Ada tiga hal yang ada pada diri seseorang, dia akan merasakan manisnya iman.” (al-Hadits)
Asy-Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah menerangkan, “Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengabarkan bahwa iman memiliki rasa manis dalam kalbu. Jika seorang hamba telah merasakan manisnya iman, manisnya iman akan menghiburnya dari segala kesenangan duniawi (yang tidak ia peroleh, -pen.) dan (menyelamatkannya dari) berbagai dorongan hawa nafsu, serta akan mewujudkan kehidupan yang thayyibah (penuh kebahagiaan). Karena, seseorang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya pastilah ia akan selalu berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikianlah keadaan orang yang mencintai sesuatu pasti akan banyak menyebutnya. Ia juga akan bersungguh-sungguh dalam mengikuti Rasul Shallallahu `alaihi wa sallam dan lebih mendahulukan ketaatan kepada beliau Shallallahu `alaihi wa sallam daripada ucapan orang lain. Ia pun lebih mendahulukan beliau Shallallahu `alaihi wa sallam daripada kehendak hawa nafsunya.
Orang yang demikian keadaannya, akan tenteram dan selalu dihiasi dengan ketaatan. Dadanya menjadi lapang untuk Islam. Ia pun berada di atas cahaya dari Rabbnya. Namun, kebanyakan orang yang beriman belum mencapai derajat yang sangat tinggi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan setiap orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Rabbmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (al-An’am: 132) (at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 56)
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang manisnya iman. Al-Abbas bin Abdil Muththalib Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bahwasanya beliau Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
ذَاقَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِيْناً وَمُحَمَّدٍ رَسُولاً
“Akan merasakan manisnya iman, seorang yang ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim no. 150 dan at-Tirmidzi no. 2623)
Atsar Salaf Tentang Manisnya Iman
Pembaca, rahimakumullah. Sebagai generasi terbaik, para sahabat telah merasakan lezatnya iman. Kebahagiaan pun telah mereka raih bersama bimbingan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam. Mari kita simak beberapa atsar sahabat tentang halawatul iman.
Sahabat Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu pernah berwasiat kepada putranya,
يَا بُنَيَّ، إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُولُ : إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ، وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ. يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ  يَقُولُ: مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي.
Wahai anakku, sungguh engkau tidak akan mendapatkan kelezatan hakikat iman hingga engkau meyakini bahwasanya apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak mungkin mengenai dirimu. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, yang pertama kali diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah qalam (pena), lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Pena berkata, ‘Wahai Rabbku, apa yang aku tulis?’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga tegak hari kiamat’.”
Wahai anakku, sungguh aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mati tidak di atas keimanan kepada takdir, ia bukan dari golonganku.” (Sunan Abu Dawud no. 4078, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat peraih janji surga berkata,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: الْإِنْفَاقُ مِنَ الْإِقْتَارِ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ، وَبَذْلُ السَّلَامِ لِلْعَالَمِ
“Tiga hal yang jika ada pada seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: berinfak di masa sempit, bertindak adil kepada manusia, dan menebarkan salam kepada manusia.” (Riwayat Abdurrazaq dalam al-Mushannaf no. 19439 dari Ma’mar, dari Abu Ishaq, dari Shilah bin Zufar, dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘anhu)
Abdullah bin Mas’ud al-Hudzali Radhiyallahu ‘anhu berkata,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ يَجِدُ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: تَرْكُ الْمِرَاءِ فِي الْحَقِّ، وَالْكَذِبِ فِي الْمِزَاحَةِ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُ
“Tiga hal yang jika itu ada pada seseorang, niscaya ia akan meraih manisnya iman: meninggalkan perdebatan dalam keadaan ia benar, meninggalkan dusta meskipun dalam gurauan, serta ia yakin bahwa apa yang ditakdirkan pasti tidak akan luput darinya, dan apa yang tidak ditakdirkan tidak akan menimpanya.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Kabir [9/157 no. 8790] dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf no. 20082)
Berlomba Meraih Manisnya Iman
Hadits-hadits dan atsar sahabat di atas menunjukkan bahwa manisnya iman bisa dirasakan oleh seorang mukmin. Namun, kelezatan dan manisnya iman tersebut tentu bertingkat-tingkat, berbeda antara seorang mukmin dan mukmin lainnya.
Kelezatan iman dalam kalbu seorang mukmin yang kokoh adalah kenikmatan yang agung, melebihi kenikmatan-kenikmatan dunia, bahkan tidak bisa dibandingkan. Bisa jadi, seseorang mengalami kekurangan dari sisi duniawi, namun sesungguhnya ia orang yang berada di puncak kebahagiaan karena iman yang tertanam dalam kalbunya.
Suatu saat, Ibrahim bin Adham [2] t—salah seorang ulama ahlul hadits dan ahli zuhud di zamannya—berjalan dalam sebuah safar bersama sahabat-sahabatnya. Dalam perjalanan tersebut, mereka beristirahat untuk menikmati bekal berupa potongan roti kering—bukan daging dan roti basah dari tepung gandum halus yang biasa dihidangkan di meja para raja. Kemudian Ibrahim turun ke sungai. Dia ambil air dengan tangannya, meneguknya dengan menyebut Asma Allah Subhanahu wa Ta’ala, lantas berkata,
لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ
“Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui (kebahagiaan dan kelezatan) yang sedang kita rasakan, niscaya mereka akan berebut dengan kita dengan pedang-pedang (karena iri dan tidak mendapatkan kebahagiaan itu, –pen.).” (Hilyatul Auliya 7/370)
Subhanallah, demikianlah kebahagiaan meliputi kalbu manakala iman telah mendarah daging. Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dicapai oleh para penguasa dunia.
Sebagian salaf mengungkapkan kelezatan iman dengan ucapannya,
مَسَاكِيْنُ أَهْلِ الدُّنْيَا خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا. قِيلَ: وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟ قَالَ: مَحَبَّةُ اللهِ وَمَعْرِفَتُهُ وَذِكْرُهُ
“Sesungguhnya orang-orang miskin dari ahli dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia, namun belum merasakan apa yang terlezat di dunia.” Ditanya, “Kenikmatan apakah yang paling lezat di dunia?” Dijawab, “Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal-Nya dan mengingat-Nya.”
Kelezatan iman adalah surga di dunia ini. Sebagian ulama berkata,
إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لاَ يَدْخُلُ جَنَّةَ الْآخِرَةِ
“Sungguh, di dunia ada surga, siapa yang belum memasuki surga di dunia itu, ia tidak akan masuk surga di akhirat.” (Surga yang dimaksud adalah kelezatan iman yang berupa kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, –pen.)
Di muka bumi ini ada manusia yang mencapai puncak-puncak keimanan hingga kelezatan iman ia rasakan. Ada pula yang hanya memiliki iman seberat dzarrah atau lebih ringan. Bahkan, kebanyakan manusia tidak mau masuk ke dalam keimanan, wal-‘iyadzu billah.
Cara Meraih Manisnya Iman
Dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam menyebutkan tiga sifat yang dengannya seorang mukmin mendapatkan manisnya iman. Tiga sifat inilah yang seharusnya diminta oleh setiap insan muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka berlomba menggapainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“… dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (al-Muthaffifin: 26)
Sifat pertama yang harus dimiliki guna meraih manisnya iman adalah mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, serta mendahulukan keduanya daripada kecintaan terhadap yang lain. Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak akan sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya bukan sekadar pengakuan. Ia harus dibuktikan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
Adalah dusta jika seseorang yang mengaku mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, namun ia tidak mengikuti akidah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, dan yang dia ikuti justru kesyirikan atau khurafat. Adalah dusta jika seseorang yang mengaku dirinya lebih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dari segala sesuatu, namun ketika beribadah lebih memilih kebid’ahan-kebid’ahan. Demikian pula, adalah dusta jika seseorang mengaku mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, namun berpaling dari ilmu syariat.
Kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian pula sebaliknya kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, hanya diperoleh dengan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam.
Barang siapa mentadabburi ayat ini, niscaya ia akan sadar bahwa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebaliknya, kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya, akan diperoleh manakala seorang terus menapaki jejak Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dalam segala sisi kehidupan.
Jika seorang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melebihi kecintaan atas segala sesuatu, kebahagiaan dan kelezatan iman akan mengiringi perjalanan hidupnya. Apa pun yang dihadapi dalam perjalanan hidupnya tidaklah menambah selain kebahagiaan, kebaikan, serta ketinggian derajat di dunia dan di akhirat. Namun, apabila seseorang lebih mengutamakan kecintaan yang lain di atas kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, tunggulah datangnya ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (at-Taubah: 24)
Sebuah kejadian tertulis dalam referensi-referensi sirah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, menunjukkan betapa sahabat adalah orang-orang yang sangat bahagia dengan kelezatan iman yang menghiasi diri mereka, dengan mendahulukan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Dikisahkan, seusai Perang Uhud, pasukan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam memasuki Madinah. Seorang wanita dari Bani Dinar mendapatkan kabar kematian ayah, saudara kandung, dan suaminya sekaligus. Sungguh, berita yang sangat menyedihkan. Namun, wanita itu terus bertanya tentang
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, bagaimana keadaan beliau? Begitu ia mendengar dan melihat Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam selamat, kesedihan itu sirna. Dari lisannya mengalir ucapan,
كُلُّ مُصِيبَةٍ بَعْدَكَ جَلَلٌ
“Semua musibah (yang menimpaku) tidak ada artinya setelah engkau (mendapatkan keselamatan).”
Ketenangan dan kebahagiaan di saat musibah karena kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan jihad, melebihi segala sesuatu.
Sifat kedua yang menyebabkan seorang mukmin merasakan manisnya iman adalah mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula dalam membenci, membela, dan memerangi, semua karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Cinta dan benci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tali iman yang paling kokoh, sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam,
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali iman yang paling kokoh adalah memberikan loyalitas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, memusuhi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membenci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. ath-Thabarani dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [2/734 no. 998])
Cinta dan benci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah konsekuensi kecintaan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang yang jujur cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai apa yang dicintai-Nya Subhanahu wa Ta’ala, juga membenci apa yang dibenci-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, di antara doa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, bahkan beliau mewasiatkan umatnya untuk berdoa dengannya—adalah,
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
“Ya Allah, aku memohon agar aku mencintai-Mu dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu serta mencintai semua amalan yang mendekatkanku kepada cinta kepada-Mu.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad, dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’, kemudian beliau menyatakannya sahih dalam Sunan at-Tirmidzi no. 3235 dan al-Misykah no. 747)
Ibnu Rajab al-Hanbali Rahimahullah berkata, “Dalam doa ini, selain meminta kecintaan kepada-Nya, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam juga memohon dua hal lainnya. Pertama, memohon untuk mencintai orang-orang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah, orang yang mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti mencintai mereka yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membenci musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala…. Dan manusia termulia yang wajib dicintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah para nabi dan rasul-Nya, lebih-lebih Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam, nabi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan manusia mengikuti jalan beliau…. (Kedua), mencintai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Syarah hadits Ikhtisham al-Mala’il A’la)
Cinta dan benci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri semakin terkikis di akhir zaman. Lihatlah, betapa banyak manusia mengikat kecintaannya bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka mengikat kecintaan dengan tarekat sufi, klub suporter sepak bola, geng motor, atau partai-partai yang mencerai-beraikan kaum muslimin. Saudaranya muslim dia benci hanya karena berbeda partai, sementara itu seorang fasik atau kafir dia sayangi karena satu partai. [3]
Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib Radhiyallahu ‘anhuma berkata,
وَقَدْ صَارَتْ عَامَّةُ مُؤَاخَاةِ النَّاسِ عَلَى أَمْرِ الدُّنْيَا، وَذَلِكَ لاَ يُجْدِي عَلَى أَهْلِهِ شَيْئًا
“Sungguh, kebanyakan persaudaraan manusia karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah), dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikit pun padanya.”
Sebab ketiga adalah membenci kesyirikan dan kekafiran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.
Kebencian terhadap kesyirikan dan segenap bentuk kekafiran diwujudkan dengan senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari kekufuran dan agar hatinya selalu dikokohkan di atas keimanan. Hal itu diwujudkan pula dengan berusaha mengenali kekafiran agar ia bisa menghindarinya.

Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat peraih surga, adalah salah satu sosok teladan dalam mempertahankan iman. Hatinya diliputi kecintaan kepada iman dan kebencian kepada kekufuran. Saat beliau disiksa oleh orang kafir Quraisy di kota Makkah di awal dakwah Islam, beliau dipaksa meninggalkan Islam.
Apakah kemudian beliau melepaskan keimanan? Tidak! Beliau justru mengatakan, “Ahad! Ahad!” Beliau tetap berada dalam agama tauhid hingga datang pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu membelinya dan membebaskannya dari perbudakan. [4]
Keluarga Yasir Radhiyallahu ‘anhu adalah contoh lain dari pengorbanan mempertahankan Islam. Orang kafir Quraisy menyiksa keluarga yang mulia ini. Yasir dan istrinya, Sumayyah, memperoleh kesyahidan. Darah keduanya tertumpah dalam keadaan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada keduanya. Jannah mereka raih setelah mereka merasakan manisnya iman dalam kehidupan dunia.
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda kepada mereka,
أَبْشِرُوا آلَ عَمَّارٍ وَآلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ
“Berbahagialah kalian wahai keluarga ‘Ammar, wahai keluarga Yasir, karena sungguh tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah al-Jannah.” (Lihat Shahih as-Sirah an-Nabawiyah, asy-Syaikh al-Albani hlm. 154)
Mereka adalah kaum yang telah berlalu. Mereka meninggalkan dunia dengan penuh kebahagiaan. Tinggallah kita merenungi nasib kita masing-masing dan bertanya, “Sudahkah cinta saya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih dari segalanya? Sudahkah cinta dan benci saya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sudahkah saya dapatkan kebencian kepada kekufuran sebagaimana saya membenci diri saya dilemparkan ke dalam api?”
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ
“Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami teladan yang membimbing dan mendapatkan bimbingan.”
Amin!


Kamis, Januari 08, 2015

Menjemput Hidayah

(Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Al-haq dan al-batil merupakan dua perkara yang bertolak belakang, tidak akan bisa bertemu apalagi menyatu. Al-haq adalah sesuatu yang sudah jelas sebagaimana jelasnya al-batil, sehingga tidak ada pertengahan di antara keduanya.
Allah l telah berfirman:
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)
As-Sa’di berkata, “Kami menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan kejelekan serta Kami jelaskan antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan penyimpangan. Nikmat yang besar ini menuntut agar setiap hamba melaksanakan hak-hak Allah l dan mensyukuri nikmat-Nya serta tidak mempergunakannya dalam bermaksiat kepada Allah l, namun manusia tidak mau melaksanakannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 855)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)
As-Sa’di berkata, “Kemudian Allah l mengutus kepada manusia para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan Allah l memberikan hidayah kepada jalan yang akan menyampaikan kepada-Nya, menjelaskannya dan menganjurkan dengannya, dan Dia telah menerangkan apa yang akan didapatkan bila telah sampai kepada-Nya. Kemudian Allah l menjelaskan jalan kebinasaan dan memperingatkan darinya, serta memberitakan apa yang didapatkan bila dia menempuh jalan kebinasaan dan malapetaka tersebut.
Manusia pun terbagi. Ada yang mensyukuri nikmat Allah l dan melaksanakan segala apa yang merupakan hak-hak Allah l. Ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah l. Allah l telah menganugerahinya nikmat agama dan dunia, namun dia menolaknya dan kufur kepada Rabb-nya. Dia justru menempuh jalan menuju kebinasaan.” (Tafsir as-Sa’di)
Kejelasan dua jalan yang berbeda ini sesungguhnya bagaikan matahari di siang bolong dan bulan purnama di malam hari. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang mengenalnya apalagi mengilmuinya. Hal ini karena beberapa faktor, di antaranya:
1. Kebodohan yang menguasai setiap muslim.
2. Kelalaian manusia sehingga tidak mau mencari dan mempelajarinya.
3. Tidak memiliki niat untuk mendapatkannya.
4. Munculnya para penyeru kesesatan yang mengaku pengikut Rasulullah n namun berjiwa iblis.
Masih banyak lagi faktor lain yang menyebabkan tidak jelasnya kebenaran dan kebatilan. Apabila kita memerhatikan dengan saksama, kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang bisa mendapatkan al-haq, berjalan di atasnya, dan terjauhkan dari kebatilan, adalah semata hidayah dari Sang Pencipta.
Hakikat Hidayah dan Macamnya
Kata hidayah berasal dari kata al-hadyu yang bermakna bimbingan hidup, perilaku, dan jalan, sebagaimana dalam firman Allah l:
“Sebagai pembimbing hidup bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
Ali z berkata, “Rasulullah berkata kepadaku:
يَا عَلِيُّ سَلِ اللهَ الْهُدَى
‘Wahai ‘Ali, mintalah bimbingan kepada Allah l’.” (HR. al-Imam an-Nasa’i no. 5225 dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 5210)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
إِنَّ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Rasulullah n.” (HR. al-Bazzar dalam Musnad-nya no. 2076, asalnya dalam riwayat Muslim no. 867 dari sahabat Jabir bin Abdullah z)
إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالْاِقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
“Bimbingan yang baik dan perilaku yang baik serta berlaku lurus adalah satu bagian dari 25 bagian kenabian.” (Lihat Shahih wa Dhaif al-Jami’ no. 3756 dari sahabat Ibnu Abbas c)
Kita mengetahui bahwa salah satu nama Allah l adalah “Al-Haadi” yang artinya Dialah yang telah memperlihatkan dan mengajarkan jalan untuk mengenal-Nya sehingga mereka mengakui rububiyah Allah l. Dialah yang membimbing makhluk kepada apa yang dibutuhkannya untuk mempertahankan hidupnya.
Terkadang al-hadyu berarti ketaatan, sebagaimana firman Allah l:
“Mereka itulah orang-orang yang telah dibimbing menuju ketaatan, maka ikutilah ketaatan mereka.” (al-An’am: 90) (Lihat al-Qamus bab “Ha” dan an-Nihayah karya Ibnu Atsir 5/253)
Ada dua macam bentuk hidayah.
1. Hidayah al-irsyad (ad-dilalah) dan al-bayan
Hidayah ini artinya penjelasan dan keterangan kepada sebuah jalan. Hidayah ini dimiliki oleh Allah l dan oleh makhluk-Nya. Allah l berfirman tentang Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)
Allah l menjelaskan tentang Nabi-Nya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)
“Orang yang beriman itu berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar’.” (Ghafir: 38)
2. Hidayah taufik
Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah l semata. Dia akan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada yang tidak dikehendaki-Nya pula.
Tentang hidayah ini, Allah l berfirman:
“Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 142)
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56)
Orang yang bertakwa kepada Allah l telah mendapatkan kedua jenis hidayah ini. Adapun selain orang yang bertakwa tidak mendapatkan hidayah taufik. Tentu saja, hidayah bayan tanpa hidayah taufik untuk mengamalkannya, maka dia bukanlah hidayah yang hakiki dan sempurna.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 23)
Syaikhul Islam bin Taimiyah t mengatakan, “Jika hanya sekadar berilmu tentang kebenaran tanpa mengamalkannya maka dia belum mendapatkan hidayah.” (Amradhul Qulub hlm. 32)
Contoh riil kedua jenis hidayah ini adalah ketika Allah l dan Rasul-Nya menjelaskan tentang keharaman sesuatu perkara melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu seorang dai menyampaikan ilmunya kepada umat tentang keharaman hal ini. Ini termasuk jenis hidayah yang pertama, hidayah dilalah dan bayan. Apabila umat ini menaati larangan tersebut dengan meninggalkannya, inilah hidayah taufik dari Allah l.
Abu Thalib, paman Rasulullah n sekaligus pembela beliau dalam berdakwah, mendapatkan hidayah ad-dilalah dan al-bayan dari Rasulullah n. Dia mengetahui agama yang benar. Namun, dia tidak mendapatkan hidayah taufik dari Allah l, sekalipun dia dekat dengan Rasul dari sisi nasab dan usaha untuk melindunginya. Hal itu bukan penjamin untuk dia beriman kepada Allah l.
“Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kendatipun manusia mengaku bahwa Muhammad adalah rasul Allah l dan Al-Qur’an adalah benar secara global, namun dia tidak mengetahui berbagai ilmu tentang hal yang bermanfaat dan yang memudaratkannya. Dia tidak mengetahui segala perintah dan larangan berikut segala cabangnya secara rinci. Kalaupun ada yang telah diketahuinya, sangat jauh dari pengamalan. Jika ditakdirkan sampai kepadanya segala perintah dan larangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya menjelaskan hal-hal yang bersifat umum dan menyeluruh. Tidak mungkin selainnya, tidak disebutkan segala hal yang menjadi kekhususan setiap hamba.
Berdasarkan ini semua, Allah l memerintahkan manusia untuk meminta hidayah ke jalan-Nya yang lurus. Hidayah kepada jalan yang lurus mencakup pengetahuan tentang segala yang dibawa oleh Rasulullah n secara rinci. Termasuk pula mengilmui segala perintahnya secara menyeluruh. Bahkan, mencakup pula ilham untuk mengamalkan ilmu tersebut, karena jika hanya mengilmui kebenaran tanpa mengamalkannya maka itu bukanlah hidayah.
Oleh karena itu, Allah l berfirman kepada Nabi-Nya setelah perdamaian Hudaibiyah:
“Sesungguhnya Kami telah membukakan kemenangan yang nyata bagimu agar Allah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang serta agar Allah menyempurnakan nikmatnya atasmu dan memberimu hidayah kepada jalan yang lurus.” (al-Fath: 1—2)
Allah l berfirman tentang nabi Musa dan Harun e:
“Dan Kami telah memberi keduanya kitab yang jelas, dan Kami menunjuki keduanya ke jalan yang lurus.” (ash-Shaffat: 117—118)
Akan tetapi, kaum muslimin berselisih tentang berita yang datang dari Allah l, ilmu yang terkait dengan keyakinan dan amalan, padahal mereka bersepakat bahwa Muhammad adalah haq dan Al-Qur’an adalah haq. Jika masing-masing mereka mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus niscaya mereka tidak akan berselisih. Bahkan, kebanyakan orang mengetahui perintah Allah l, namun mereka memaksiatinya. Sekiranya mereka mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus, niscaya mereka akan mengamalkan segala perintah tersebut dan meninggalkan segala yang dilarang. Orang-orang yang telah mendapatkan hidayah Allah l dari umat ini, merekalah wali-wali Allah yang bertakwa. Termasuk salah satu sebab besar mereka mendapatkan hidayah itu adalah doa mereka kepada Allah l setiap shalat. Mereka juga mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membutuhkan hidayah kepada jalan yang lurus.” (Amradhul Qulub hlm. 31—33)
Ibnul Qayyim t berkata, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus adalah hidayah al-bayan dan ad-dilalah kemudian taufik dan ilham. Hidayah taufik dan ilham ini datang setelah hidayah dilalah dan bayan. Tidak mungkin seseorang sampai kepada ad-dilalah dan al-bayan melainkan melalui para rasul. Apabila terwujud al-bayan dan ad-dilalah, lalu diilmui maka akan terwujud hidayah taufik. Allah l akan menjadikan iman di dalam hati, mencintainya, menghiasinya, dan menjadikan hati itu mengutamakan iman tersebut, ridha dan berloyalitas kepadanya. Semua ini merupakan wujud dua hidayah (al-bayan wad-dilalah dan taufik). Keberhasilan tidak akan terwujud melainkan dengan keduanya.
Kedua hidayah ini mengandung ilmu terhadap kebenaran yang telah diketahuinya baik secara rinci maupun global, serta ilham dalam kebenaran dan menjadikan kita termasuk orang yang mengikutinya baik dalam bentuk lahiriah maupun batiniah, kemudian diberi kemampuan untuk melaksanakan konsekuensi dari petunjuk tersebut baik dengan ucapan, perbuatan, maupun tekad yang kuat. Hal ini terjadi secara berkesinambungan dan kokoh sampai kita meninggal dunia. Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa seorang hamba sangat butuh untuk meminta melalui doa di atas: Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.
Dari sini pula diketahui kekeliruan orang yang mengatakan, “Apabila kita telah mendapatkan hidayah, untuk apa kita memintanya?”
Sungguh, kebenaran yang tidak kita ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena malas atau menggampangkannya sama banyak dengan apa yang kita inginkan, atau lebih banyak, atau lebih sedikit. Apa yang kita inginkan namun tidak mampu kita lakukan juga demikian. Demikian juga apa yang tidak kita ketahui secara global dan tidak mendapatkan hidayah secara rinci, tidak terhitung.
Oleh karena itu, kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Barang siapa telah mendapatkan kesempurnaan dalam masalah ini, maka meminta hidayah artinya meminta kekokohan dan selalu berada di atasnya.” (Lihat Tafsir al-Qayyim karya Ibnul Qayyim hlm. 9)
Hidayah Akan Memisahkan antara Hati yang Hidup dan Mati
Hati disifati dengan hidup dan mati. Hati memiliki tiga keadaan, sehat (selamat), berpenyakit, atau mati. Dari ketiga jenis hati ini, orang yang paling celaka adalah orang yang memiliki hati yang mati.
Banyak definisi dari ulama tentang hati yang sehat (selamat). Akan tetapi, definisi yang paling mencakup adalah hati yang selamat dari dorongan syahwat yang menyelisihi perintah Allah l dan larangan-Nya, serta selamat dari segala syubhat yang mengotori berita (dari Allah dan Rasul-Nya), selamat dari bentuk penghambaan kepada selain Allah l, selamat dari berhukum kepada selain Allah l, selamat dalam cintanya kepada Allah l dengan menjadikan hukum Rasulullah n sebagai aturan dalam takut, harap, dan tawakalnya kepada Allah l, bertaubat kepada-Nya, menghinakan diri di hadapan-Nya, mengutamakan ridha-Nya dalam setiap kondisi, dan menjauhkan diri dari murka-Nya dengan berbagai cara.
Inilah hakikat ubudiyah yang tidak boleh diberikan melainkan kepada Allah l.
Hati yang berpenyakit adalah hati yang hidup namun berpenyakit. Hati ini memiliki dua unsur. Terkadang unsur satu yang menariknya dan terkadang yang lain, tergantung mana yang sedang berkuasa.
Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki kehidupan. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan perintah-Nya, tidak mencintai dan menerima-Nya. Hati yang selalu bersama syahwat dan kelezatannya, sekalipun hal itu mengandung kemurkaan dan kebencian Allah l.
Apabila telah melampiaskan diri dengan syahwat dan segala keinginannya, dia tidak peduli apakah Allah l ridha atau murka. Hati ini berada dalam ketundukan kepada selain Allah l. Demikian pula cinta, rasa takut, harap, senang, benci, pengagungan, dan penghambaan dirinya. Jika mencintai sesuatu, dia mencintainya karena hawa nafsunya. Jika marah, dia marah juga karena hawa nafsu. Jika memberi, dia pun memberi karena hawa nafsu. Demikian pula jika dia tidak memberi, karena hawa nafsu. Hawa nafsulah yang lebih mendominasinya. Hawa nafsu lebih dia cintai daripada kecintaan Allah l. Hawa nafsu pun menjadi pemimpinnya, syahwat menjadi pemandunya, kebodohan menjadi pengemudinya, dan kelalaian menjadi kendaraannya.” (Lihat Mawaridul Aman Muntaqa min Ighatsatul Lahafan hlm. 33—37)
Hidayah dari Allah l akan membedakan ketiga sifat hati tersebut dan akan tampak jelas pemilik-pemiliknya.
Agung dan Mahalnya Hidayah
Dari penjelasan di atas, tampak betapa agungnya hidayah yang diberikan oleh Allah l kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Apakah setelah hidayah yang agung dan besar ini Anda akan mau menukarnya dengan dunia? Apakah Anda akan mau menukarnya dengan kedudukan? Apakah Anda mau menukarnya dengan wanita? Apakah Anda mau menukarnya dengan harta kekayaan?
Tentu, orang yang beriman mengetahui bahwa harga hidayah itu adalah surga dan melihat Allah l. Dia tidak akan mau menukarnya dengan apa pun. Bahkan, jika darah atau nyawa harus dikorbankan untuk mempertahankannya, dia akan memberikannya. Prinsip hidupnya, keselamatan agama dan diri tidak akan bisa ditukar oleh apa pun.
Lalu bagaimana dengan mahalnya?
Pembaca yang budiman ….
Kita mengetahui bahwa hidayah taufik hanya milik Allah l semata. Allah l akan memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika demikian keadaannya, maka tidak ada seorang pun yang akan bisa membeli hidayah, dengan harga berapa pun; atau memaksakan kehendak kepada Allah l agar dia mendapatkannya, walaupun dia adalah orang yang terkaya sejagat, keturunan bangsawan, keturunan raja, atau bahkan keturunan Rasulullah n.
Beliau n telah diperintah oleh Allah l:
“Dan berikanlah peringatan kepada karib kerabatmu terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)
Itulah kehendak yang dimiliki oleh Allah l. Tidak ada ikatan, kaitan, atau campur tangan dari keinginan hamba-Nya. Allah l tidak memberinya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah l pun memberinya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Kita mengenal golongan kaum budak dan kaum fakir miskin seperti keluarga Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, dan sebagainya. Kepada merekalah Allah l memberikan hidayah-Nya. Di sisi lain, Allah l tidak memberikannya kepada keluarga dekat Rasulullah n.
Menjemput Hidayah
Sekali lagi, hidayah taufik hanya milik Allah l semata. Dia menganugerahkannya kepada seseorang sebagai karunia dan rahmat-Nya. Dia tidak memberikannya kepada hamba-Nya yang lain, ini adalah sebuah keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkannya dan siapa yang tidak.
“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
Termasuk hikmah-Nya, Allah l mengikat antara sebab dan akibat. Allah l tidak memberitahukan tentang sebuah sebab melainkan Dia telah menjelaskan serta memberitahukan bahwa di antara sebab-sebab itu ada yang disyariatkan dan ada pula yang diharamkan-Nya. Termasuk juga sebab-sebab mendapatkan hidayah. Di antaranya adalah:
1. Beriman kepada Allah l dengan keimanan yang benar, sebagaimana keimanan pendahulu kita yang saleh.
Allah l berfirman:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 137)
2. Membaca Al-Qur’an, mendalaminya, dan mengamalkan kandungannya, karena salah satu dari hikmah diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
3. Berdoa dan memintanya kepada Allah l, sebagaimana diperintahkan dalam surat al-Fatihah.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)
4. Menaati Rasulullah n dalam semua aspek kehidupan.
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)
5. Bersemangat mengkaji ilmu agama.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa Allah l kehendaki baginya kebaikan, niscaya Dia menjadikannya faqih dalam agama.” (HR. al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Wallahu a’lam.